Oleh : Sapto Raharjanto
Di sebuah kamar sempit berukuran dua kali tiga meter di lereng Gunung Burangrang, waktu seolah berhenti berputar. Di sana, di antara tumpukan buku yang menguning dan deru mesin tik manual, bersemayam ingatan seorang lelaki tua bernama Samsir Mohammad. Ia bukanlah nama yang diteriakkan dalam buku teks sejarah sekolah, namun jejak langkahnya adalah rajutan dari benang-benang merah perjuangan Republik yang sering kali dipaksa putus oleh zaman.
Samsir adalah representasi dari generasi yang meyakini bahwa kemerdekaan bukan sekadar seremonial bendera, melainkan sebuah laku hidup. Di masa tuanya, ia menolak segala bentuk pengkultusan. “Panggil aku Samsir saja,” ucapnya setiap kali anak muda menyapanya dengan takzim. Baginya, sikap egaliter adalah fondasi dari demokrasi yang sehat. Dengan kacamata bulat tebal dan tongkat kayu yang setia menopang langkah ringkihnya, Samsir adalah perpustakaan berjalan yang senantiasa terbuka bagi siapa saja yang ingin menyesap kopi hitam sambil mendiskusikan nasib bangsa.
Lahir di Sungai Puar pada 30 Mei 1926, Samsir tumbuh dalam dialektika pemikiran yang tajam. Ia adalah saksi hidup bagaimana asrama Menteng 31 menjadi kawah candradimuka bagi para pemuda yang kelak mengguncang takhta kolonial. Kegemarannya membaca, yang dipupuk sejak sekolah di HIS Bandung, membawanya melampaui batas-batas kedaerahan. Ia melahap pemikiran-pemikiran besar dunia dari buku-buku yang ia “selamatkan” dari tumpukan barang antik ayahnya, membentuk fondasi ideologi yang kokoh, bahwa rakyat harus berdaulat atas tanahnya sendiri.
Kiprah terpenting Samsir terukir indah dalam sejarah agraria Indonesia. Sebagai Sekretaris Umum Barisan Tani Indonesia (BTI), ia merupakan arsitek di balik lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960. Baginya, Pasal 33 UUD 1945 bukan sekadar barisan kata, melainkan janji suci bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk segelintir tuan tanah.
Samsir duduk di Konstituante dan MPRS, berjuang memastikan bahwa petani kecil memiliki hak atas tanah yang mereka cangkul. Ia berkeliling dunia dari Moskow hingga Havana untuk mencari formula terbaik bagi kesejahteraan petani. Kenangannya bertemu Che Guevara di Kuba meninggalkan kesan mendalam “bahwa revolusi rakyat butuh sepatu agar kaki tak tertusuk duri tebu saat berjuang”. Pesan itu ia bawa pulang ke tanah air, bahwa perjuangan ideologis haruslah membumi dan menyentuh kebutuhan paling dasar dari rakyat jelata.
Namun, jalan lurus yang ia pilih harus dibayar mahal. Tragedi 1965 memutarbalikkan nasibnya dalam semalam. Dari kursi terhormat di lembaga negara, Samsir dilemparkan ke dalam gelapnya sel penjara. Ia mengalami penyiksaan yang melampaui batas kemanusiaan hantaman karet timbaan hingga pengasingan panjang di Pulau Buru. Namun, di tengah kepedihan itu, martabatnya tak pernah runtuh. Ia menerima segala nestapa sebagai konsekuensi dari sebuah proses politik yang menurutnya “dikelirukan oleh para pemimpin.”
Sepulangnya dari pembuangan pada tahun 1979, Samsir membuktikan bahwa seorang pejuang sejati tidak akan mati kutu oleh kemiskinan. Ia sempat terjun ke dunia bisnis, meraih kesuksesan finansial yang luar biasa, dan membelikan rumah mewah untuk keluarganya sebagai bentuk penebusan atas tahun-tahun yang hilang. Namun, jiwa petualangnya tak bisa dikurung dalam kemewahan borjuis. Setelah lima tahun menunaikan janji bahagianya kepada anak-istri, ia menanggalkan segala atribut kekayaan dan kembali memilih hidup dalam kesahajaan.
Keputusannya untuk menghabiskan masa tua di lereng Burangrang adalah pernyataan politik terakhirnya, bahwa kekuasaan dan harta hanyalah mampir minum, sementara prinsip adalah keabadian. Ia tetap menulis, tetap menyapa zaman melalui laman digital dan tetap kritis terhadap ketimpangan sosial yang masih menjerat negeri ini.
Hingga embusan napas terakhirnya pada 26 Juni 2009, Samsir Mohammad tetap menjadi sosok yang setia pada “Janji Proklamasi.” Ia adalah cermin bagi generasi hari ini bahwa menjadi pahlawan tidak selalu harus berdiri di atas podium. Terkadang, kepahlawanan justru ditemukan dalam kesetiaan menjaga nalar, keberanian menanggung penderitaan demi prinsip, dan kerelaan untuk kembali menjadi rakyat biasa setelah badai kekuasaan berlalu. Di pemakaman Padasuka, ia beristirahat, namun jiwanya tetap hidup di setiap jengkal tanah yang diperjuangkannya untuk para petani.
Penulis adalah kontributor aktivis.id
No Comments