Biaya Operasional Sekolah di Jombang Harus Digunakan Untuk Meningkatkan Literasi Siswa

3 minutes reading
Wednesday, 14 Jan 2026 07:50 226 Aktivis

Tingkat kemampuan membaca di Indonesia menjadi fokus utama bagi para pengambil keputusan dalam dunia pendidikan dan aktivis sosial.

Data dari lembaga internasional seperti UNESCO menunjukkan bahwa angka melek huruf di Indonesia cukup tinggi, yakni sekitar 96% untuk orang dewasa dan hampir 100% untuk remaja berusia 15-24 tahun.

Angka diatas hanya mencerminkan kemampuan mendasar dalam membaca dan menulis tanpa menjamin adanya pemahaman yang mendalam atau kemampuan literasi kritis yang penting di era modern ini.

Fakta di lapangan menunjukkan adanya tantangan signifikan terkait kualitas literasi.

Hasil dari Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa siswa Indonesia mendapatkan skor rata-rata hanya sekitar 359 poin dalam keterampilan membaca, jauh di bawah rata-rata global dan menempatkan Indonesia pada posisi yang cukup rendah di antara negara-negara yang ikut serta.

Skor ini menunjukkan kesulitan siswa dalam memahami teks yang lebih panjang dan kompleks sesuai dengan standar internasional.

Permasalahan literasi di Indonesia tidak hanya terkait dengan kemampuan  membaca dasar, tapi juga berkaitan dengan minat baca dan kemampuan untuk memahami isi bacaan.

Bahkan data dari UNESCO dan lembaga lainnya mencatat bahwa hanya sekitar 0,001% masyarakat Indonesia yang menunjukkan minat baca yang tinggi, yang berarti hanya satu dari seribu orang yang memiliki kebiasaan membaca yang teratur dan mendalam.

Situasi ini semakin diperburuk oleh kurangnya fasilitas membaca, seperti perpustakaan yang tidak mencukupi dan ketersediaan bahan bacaan berkualitas yang masih minim di banyak sekolah.

Lembaga Pendidikan Jombang Harus Memanfaatkan BOS Untuk Menunjang Literasi Siswa

Dalam kondisi seperti ini, fungsi Dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) menjadi sangat penting.

Dana BOS yang diterima oleh sekolah seharusnya tidak hanya digunakan untuk keperluan administratif atau kegiatan rutin, tetapi juga diarahkan untuk mendukung kegiatan literasi siswa secara terencana dan berkelanjutan.

Penggunaan dana BOS harus digunakan untuk memperluas akses terhadap sumber bacaan berkualitas, menyediakan koleksi buku yang bervariasi dan relevan, mengembangkan sudut baca di kelas maupun perpustakaan sekolah, serta melatih guru untuk mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam kurikulum adalah langkah-langkah strategis yang dapat membantu meningkatkan budaya membaca di sekolah.

Alokasi dana untuk literasi seperti majalah, perlengkapan perpustakaan juga perlu dipertimbangkan, mengingat perubahan zaman dan kebutuhan pembelajaran yang modern.

Upaya ini sejalan dengan sasaran pembangunan pendidikan nasional, yakni untuk melahirkan generasi yang tidak hanya terampil membaca, tetapi juga mampu memahami, berpikir kritis, dan menggunakan informasi dengan baik.

Pengelolaan dana BOS yang transparan dan terfokus pada peningkatan literasi akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.

Saat kemampuan literasi siswa meningkat, mereka tidak hanya berprestasi secara akademis, tetapi juga lebih siap untuk menghadapi tantangan kehidupan di era digital dan global.

Semua pihak harus memiliki komitmen yang kuat terutama dari sekolah serta dukungan kebijakan yang memperkuat kemampuan literasi. Indonesia memiliki kesempatan untuk mengubah tantangan literasi menjadi kekuatan pendidikan yang berkelanjutan.

Penulis
Andika Kombun
Pemerhati Pendidikan Jombang

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA