Kata Nyadran berasal dari Bahasa Sansekreta, Sradda yang artinya keyakinan. Selain penyebutan Nyadran ada pula yang menyebut dengan Ruwah (Ruwahan).
Ruwah merupakan bulan ke 8 dari penanggalan Jawa ciptaan Sultan Agung Raja Mataram. Ruwah berasal dari akar Bahasa Arab yaitu Ruh (Jamak Arwah), jadi dalam masyarakat Jawa menandai sebagai waktu untuk mengingat kematian dengan cara ziarah kubur.
Sradda juga tumbuh dalam masyarakat Majapahit yang merupakan upacara keagaaman dimana para Pemangku Agama memberikan doa dan puji-pujian. Dalam tradisi masyarakat Jawa biasanya Masyarakat melakukan ritual Ziarah Kubur, membersihkan makam para leluhurnya serta berdoa diatas pusara leluhur.
Dalam aktifitas Nyadran ini biasanya dilakukan secara bergotong royong, dimana masyarakat dan antar keluarga saling bekerjasama membersihkan area pemakaman leluhur.
Mereka berdatangan ke area makam dengan berkirab membawa segala macam perlengkapan upacara. Setelah sampai diarea upacara maka orang yang dianggap tua atau tokoh masyarakat menyampaikan tujuan acara, yang dalam Bahasa jawa disebut dengan “ujub”. Setelah itu pemuka masyarakat melakukan doa terhadap arwah leluhur dan permohonan kepada Sang Pencipta agar diberikan keselamatan serta keberkahan.
Acara Nyadran ini selanjutnya ditutup dengan “kembul bujono”, atau makan Bersama. Masyarakat yang datang tersebut membawa makanan masing-masing seperti lauk pauk, ayam ingkung, urapan sayur, nasi, ikan goreng, sambal, sayur dan lain sebagainya.
Selanjutnya mereka mengumpulkannya ditengah-tengah tempat upacara untuk didoakan agar mendapatkan keberkahan. Setelah selesai doa, mereka akan saling tukar makanan tadi dan menyantapnya Bersama-sama.
Bagi Masyarakat yang tidak memungkinkan untuk pergi berziarah maka kegiatan Nyadran dapat dilakukan dirumah.
Dalam tradisi ini orang menyebut dengan Ngapem. Bersama-sama mereka membuat hidangan berupa ketan, kolak dan apem. Ketiga hidangan tersebut disajikan Bersama dan dihantarkan keseluruh warga sekitar.
Ada yang menarik dalam filosofi makanan tersebut, mengapa harus ketan, kolak dan apem. Maknanya kira-kira seperti ini, *Ketan* dalam Bahasa Jawa ada yang disebut kraketan atau merekatkan diri.
Jadi tiap insan harus saling merekatkan diri dalam ikatan persaudaraan. *Kolak* berasal dari Bahasa Arab “Kholiq” dan “Khalaka” yang bermakna ingat pada sang pencipta. *Apem* berasal dari makna dalam Bahasa Arab, affuwun yang diartikan sebagai ampunan.
Nyadran dalam kalender Jawa dilakukan pada bulan Ruwah atau dalam kalender Hijriah pada bulan Sya’ban. Oleh karenanya Nyadran ini merupakan sebuah tradisi menjelang bulan Ramadhan.
Menilik dari latar belakang sejarah Nyadran, maka dapat dipastikan bahwa tradisi budaya ini merupakan alkulturasi antara budaya Majapahit dan Islam. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dalam acara Nyadran yang merupakan salah satu kearifan lokal ini, seperti Gotong Royong, Sikap Rela Berkurban, Silaturahmi dan Kerukunan.
R. Hari Jatmiko SSi, CSCM
Departemen Kebudayaan Nasional
DPP Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis
No Comments