Pesan Bung Karno Kepada Wartawan “Het volk gelooft het”

5 minutes reading
Friday, 10 Apr 2026 14:30 232 Aktivis

Oleh : Sapto Raharjanto 

 

Bung Karno pernah berucap, menjadi wartawan adalah “pekerjaan gawat.” Kata “gawat” di sini bukan berarti menakutkan secara fisik semata, melainkan sebuah peringatan tentang betapa besarnya dampak dari seujung pena. Bagi Sang Proklamator, informasi bukan sekadar komoditas, melainkan alat perjuangan yang bisa membangun atau justru menghancurkan sebuah bangsa.

 

Di era sekarang, saat arus informasi mengalir tanpa bisa terbendung, pesan-pesan Bung Karno tentang jurnalisme terasa lebih relevan dari sebelumnya. Kita perlu menengok kembali bagaimana sosok pemimpin besar ini memandang media sebagai nafas revolusi, dan mengapa wartawan seharusnya tetap menjadi “penyambung lidah rakyat” di tengah kepungan arus politik dan pragmatisme ekonomi.

 

Bagi Sukarno, wartawan bukanlah sekadar buruh ketik atau pencari berita demi mengejar klik. Beliau menyebut mereka sebagai “Wartawan Bangsa.” Seorang wartawan adalah intelektual yang mengemban misi suci untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sukarno sendiri adalah seorang jurnalis ulung jauh sebelum ia menjadi presiden. Melalui media seperti Utusan Hindia, Bendera Islam, hingga Pikiran Rakjat, Bung Karno mengasah pemikirannya untuk melawan kolonialisme.

 

Bung Karno percaya bahwa wartawan memiliki posisi istimewa di hati masyarakat. Bung Karno sering menggunakan istilah Belanda, Het volk gelooft het, yang artinya “Rakyat mempercayainya.” Karena rakyat percaya pada apa yang tertulis di media, maka tanggung jawab moral seorang jurnalis sangatlah berat. Sekali seorang jurnalis berbohong, ia tidak hanya mengkhianati profesinya, tapi juga mengkhianati kepercayaan seluruh rakyat.

 

Alasan Bung Karno menyebut profesi ini gawat adalah karena kekuatan pengaruhnya. Sebuah tulisan bisa memicu semangat juang, namun sebuah fitnah bisa memecah belah persatuan dalam sekejap. Media massa dipandang sebagai alat yang lebih kuat dari senjata api. Jika senjata hanya bisa melumpuhkan fisik, tulisan bisa menggerakkan pikiran jutaan orang secara serentak.

 

Kekhawatiran Bung Karno terletak pada potensi penyalahgunaan media. Bung Karno sangat mengecam media yang hanya mengutamakan kepentingan partai atau kelompok tertentu di atas kepentingan nasional. Baginya, ketika media sudah terjebak dalam kepentingan sempit, maka media akan kehilangan marwahnya sebagai alat perjuangan dan berubah menjadi alat propaganda yang menyesatkan.

 

Dalam sejarah perjalanan bangsa, media adalah garda terdepan dalam menyuarakan kemerdekaan. Di tangan Bung Karno dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, surat kabar digunakan untuk menyatukan visi rakyat yang terpisah-pisah secara geografis. Media menjadi wadah untuk merumuskan apa itu Indonesia, apa itu merdeka, dan bagaimana cara mencapainya.

 

Namun, cara pandang ini juga mengalami evolusi. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Bung Karno mulai menerapkan kontrol yang lebih ketat terhadap media. Mengapa, Karena Bung Karno beranggapan bahwa dalam masa revolusi yang belum selesai, media harus seirama dengan tujuan besar negara. Media tidak boleh menjadi faktor yang menciptakan kegaduhan yang bisa dimanfaatkan oleh musuh-musuh revolusi. Meskipun ini menjadi perdebatan sejarah yang panjang, inti pemikiran Bung Karno tetap sama yaitu media adalah instrumen kekuatan nasional.

 

Jika dulu musuh wartawan adalah sensor dari penjajah atau tekanan negara, wartawan masa kini menghadapi musuh yang lebih halus namun tak kalah berbahaya yaitu Pragmatisme dan Arus Politik. Di era digital, media sering kali terjebak dalam perlombaan kecepatan demi mendapatkan “traffic” atau jumlah pembaca. Hal ini memicu munculnya berita-berita sensasional yang dangkal dan terkadang mengabaikan akurasi. Inilah “kegawatan” baru di masa kini. Ketika berita dibuat hanya untuk memuaskan algoritma media sosial, maka kebenaran sering kali dikorbankan demi popularitas.

 

Selain itu, kepemilikan media oleh tokoh politik atau kelompok bisnis besar sering kali membuat wartawan sulit menjaga jarak yang sehat. Wartawan rentan terseret dalam arus kepentingan pemilik modal, sehingga berita yang dihasilkan tidak lagi murni demi kepentingan publik, melainkan demi memoles citra tertentu atau menjatuhkan lawan politik.

 

Kapan Jurnalisme Harus Tegak Lurus, jawabannya adalah setiap saat. Namun, tuntutan ini terasa paling berat saat kondisi bangsa sedang terbelah oleh pilihan politik. Di sinilah nasihat Bung Karno tentang “Wartawan Bangsa” harus dipraktikkan. Wartawan tidak boleh menjadi alat pemecah belah. Wartawan harus menjadi jembatan informasi yang objektif, yang berani berkata jujur meskipun itu pahit.

 

Wartawan harus kembali ke jati dirinya sebagai penyambung lidah rakyat, terutama mereka yang suaranya tidak terdengar. Saat media mulai tunduk pada kepentingan uang dan kekuasaan, maka saat itulah jurnalisme sedang berada dalam masa kegelapan.

 

Dulu, tantangan wartawan adalah keterbatasan teknologi dan ancaman fisik dari penjajah. Namun, semangat perjuangannya sangat jelas yaitu untuk kemerdekaan. Wartawan tahu persis siapa musuh yang dihadapi.

 

Sekarang, teknologi sangat canggih, siapa pun bisa menjadi sumber informasi. Namun, tantangannya adalah “polusi informasi” atau hoaks. Di masa kini, musuhnya tidak terlihat jelas. Musuhnya bisa berupa ego untuk menjadi yang tercepat, atau godaan materi untuk melayani kepentingan penguasa.

 

Meskipun zamannya berbeda, esensinya tetap sama. Apa yang disebut Bung Karno sebagai kebenaran harus tetap menjadi kompas utama. Jika wartawan masa kini hanya mengejar viral tanpa memperdulikan dampak sosialnya, maka mereka telah gagal mengemban tugas “gawat” tersebut.

 

Meneladani semangat Bung Karno bukan berarti kita harus kembali ke sistem kontrol media di masa lalu. Justru, kita harus mengambil api semangatnya bahwa jurnalisme adalah profesi yang mulia dan penuh tanggung jawab.

 

Wartawan masa kini harus memiliki keberanian untuk menolak menjadi corong politik praktis. Mereka harus punya integritas untuk berkata “tidak” pada pesanan berita yang memutarbalikkan fakta. Media bukan sekadar bisnis, tapi merupakan pilar demokrasi yang bertugas menjaga kewarasan publik.

 

Menjadi wartawan di masa sekarang memang tetap menjadi “pekerjaan gawat.” Gawat karena nasib peradaban bangsa ini ada di ujung jempol dan pena mereka. Jika wartawan mampu menjaga jarak dari pragmatisme dan tetap setia pada kebenaran, maka mereka benar-benar telah meneruskan perjuangan Bung Karno sebagai penyambung lidah rakyat.

 

Kebebasan pers yang kita nikmati saat ini jangan sampai disalahgunakan hanya untuk kepentingan sesaat. Mari kita ingat kembali pesan Bung Karno: tulislah dengan hati, tulislah dengan kebenaran, karena rakyat percaya pada apa yang kalian tulis. Jangan biarkan kepercayaan itu runtuh hanya karena kepentingan politik atau sekadar mengejar angka rupiah.

Penulis adalah kontributor media aktivis.id

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA