Gerakan Melek Literasi Sebagai Kegiatan Kolektif Mahasiswa, Merawat Ingatan Dengan Membaca

4 minutes reading
Saturday, 11 Apr 2026 09:40 102 Aktivis

 

Oleh : Fajar Agung Dewantoro

 

“Belajar tanpa berpikir itu sia-sia, berpikir tanpa belajar itu berbahaya.” – Soekarno

Gerakan Melek Literasi lahir dari sesuatu yang sederhana sebatas pertemuan kecil, obrolan santai, dan kecintaan terhadap bacaan. Diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah angkatan 2025, gerakan ini pada awalnya hanyalah tongkrongan biasa yang perlahan menemukan arah. Dari diskusi ringan tentang buku, tumbuh kesadaran bahwa membaca bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan kebutuhan mendasar, bahkan sebuah bentuk tanggung jawab intelektual dan sosial.

Seiring waktu, lingkaran kecil itu berkembang. Peserta bertambah, diskusi semakin hidup, dan gagasan pun menguat. Dari situlah muncul inisiatif untuk membentuk sebuah gerakan yang lebih terarah: sebuah ruang bersama untuk membaca, berdiskusi, dan membangun kesadaran. Pada 9 Maret 2026, di lobi Gedung 1 FKIP, langkah pertama itu dimulai. Tempat yang mungkin terlihat biasa, namun menjadi saksi lahirnya upaya kecil untuk menjawab persoalan besar: merosotnya minat literasi di kalangan mahasiswa.

Dengan mengusung motto “merawat ingatan dengan membaca”, Gerakan Melek Literasi hadir bukan hanya sebagai ajakan untuk membuka buku, tetapi sebagai gerakan untuk menjaga memori kolektif. Membaca dimaknai sebagai cara untuk memahami diri, lingkungan, dan sejarah yang membentuk kita. Di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat dan instan, gerakan ini ingin mengingatkan bahwa tanpa literasi, kita mudah kehilangan arah, bahkan kehilangan ingatan sebagai bagian dari masyarakat yang bersejarah.

Gerakan ini kemudian dikenal dengan singkatan Ger-Me-Li, sebuah simbol sederhana namun sarat makna. Ia diharapkan menjadi pemantik kesadaran kolektif mahasiswa bahwa berpikir kritis tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kebiasaan membaca, berdiskusi, dan menguji gagasan berdasarkan fakta, terutama fakta historis. Di dalam ruang-ruang diskusi yang dibangun, mahasiswa diajak untuk tidak hanya memahami teks, tetapi juga membaca realitas sosial yang ada di sekitarnya.

Namun, Gerakan Melek Literasi tidak membatasi diri hanya pada buku-buku formal atau teoritis. Gerakan ini justru membuka cakrawala yang lebih luas tentang apa itu bacaan. Buku pelajaran, jurnal akademik, dan teori memang penting, tetapi literasi tidak berhenti di sana. Novel, cerpen, puisi, komik, biografi, arsip, bahkan catatan harian dan cerita lisan juga merupakan bagian dari dunia literasi. Setiap bentuk bacaan memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan pengalaman, nilai, dan pengetahuan.

Dengan demikian, membaca tidak lagi dipahami sebagai aktivitas yang kaku dan eksklusif, tetapi sebagai pengalaman yang hidup dan dekat dengan keseharian. Membaca novel dapat menumbuhkan empati, membaca puisi dapat mengasah kepekaan rasa, membaca sejarah dapat memperkuat kesadaran identitas, dan membaca arsip dapat membuka jejak-jejak masa lalu yang sering terlupakan. Bahkan membaca realitas sosial, melihat, mendengar, dan memahami kehidupan di sekitar, juga merupakan bagian dari literasi itu sendiri.

Gerakan ini ingin meruntuhkan anggapan bahwa literasi adalah sesuatu yang berat dan hanya milik kalangan tertentu. Sebaliknya, Ger-Me-Li hadir untuk menegaskan bahwa siapa pun bisa membaca, apa pun bisa menjadi bacaan, dan dari mana pun pengetahuan bisa tumbuh. Dengan pendekatan ini, gerakan ini menjadi lebih inklusif dan mampu menjangkau lebih banyak mahasiswa dengan latar belakang minat yang beragam.

Lebih dari itu, Gerakan Melek Literasi adalah bentuk perlawanan terhadap budaya instan, terhadap sikap apatis, dan terhadap fenomena buta literasi yang kian mengkhawatirkan. Di tengah kebiasaan membaca yang mulai tergeser oleh konsumsi informasi singkat dan dangkal, gerakan ini hadir sebagai ruang untuk memperlambat diri, untuk kembali membaca secara utuh, memahami secara mendalam, dan berpikir secara kritis.

Gerakan ini juga berupaya membangun ruang aman bagi mahasiswa untuk bertumbuh secara intelektual. Dalam setiap pertemuan, tidak ada batasan kaku tentang apa yang layak dibaca. Justru keberagaman bacaan menjadi kekuatan utama. Dari satu buku ke buku lain, dari satu genre ke genre lain, dari satu perspektif ke perspektif lain, semuanya saling melengkapi dan memperkaya pemahaman bersama.

Diskusi menjadi ruang di mana setiap orang dapat berbagi, bertanya, dan menemukan makna. Selain merawat ingatan dengan membaca, gerakan ini juga mendorong lahirnya tradisi menulis. Apa yang dibaca dan didiskusikan tidak berhenti sebagai konsumsi pribadi, tetapi diolah kembali menjadi gagasan, refleksi, dan karya. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga penulis yang mampu menyuarakan pemikiran dan pengalaman mereka.

Gerakan Melek Literasi pada akhirnya bukan hanya tentang buku, bukan hanya tentang diskusi, dan bukan hanya tentang komunitas. Ia adalah tentang kesadaran. Kesadaran bahwa menjadi mahasiswa bukan sekadar menjalani rutinitas akademik, tetapi juga proses menjadi manusia yang utuh yang mampu berpikir, merasakan, dan memahami dunia secara lebih luas. Melalui gerakan ini, diharapkan lahir generasi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tajam. Mahasiswa yang mampu merawat ingatan kolektifnya, memahami akar sejarahnya, serta berani mengambil sikap dalam menghadapi berbagai persoalan masyarakat. Karena pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca, tetapi tentang kemampuan untuk memahami kehidupan dalam segala bentuknya dan kemudian bertindak dengan kesadaran.

Penulis adalah Mahasiswa FKIP UNEJ 2025 dan Kader DPK GMNI FKIP UNEJ

 

 

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA