Perang Iran-AS Memanas, BBM Langka, Masyarakat Indonesia Berbondong-bondong Migrasi ke Kendaraan Listrik

3 minutes reading
Saturday, 7 Mar 2026 03:53 213 Aktivis

 

Oleh : Yunius Suwantoro 

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memuncak dalam beberapa hari terakhir telah memicu gelombang gejolak di pasar energi global. Pasukan AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah fasilitas militer dan energi Iran, diikuti pembalasan oleh militer Republik Islam, meningkatkan risiko perang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Dampak awal dari konflik ini langsung dirasakan di pasar minyak dunia, dengan harga minyak mentah Brent melonjak hingga sekitar USD 80 per barel — level tertinggi sejak awal 2025 — setelah gangguan jalur pengiriman melalui Strait of Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% kebutuhan minyak global.

Analis energi memperingatkan bahwa jika gangguan di selat Hormuz berlanjut atau semakin memburuk, harga minyak bisa menembus USD 100 per barel, menciptakan tekanan baru pada negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar seperti Indonesia.

Di dalam negeri, pemerintah Indonesia sudah merasakan efeknya. Harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dexlite telah dinaikkan beberapa persen, sementara harga BBM subsidi juga diprediksi dapat naik antara 5–10% jika konflik berkepanjangan terus menekan harga energi global.

Ekonom energi menjelaskan bahwa kenaikan global ini tak hanya memengaruhi harga BBM, tetapi juga biaya transportasi dan logistik secara keseluruhan, sehingga akan mendorong laju inflasi di Tanah Air.

Sejumlah pengamat mengatakan bahwa peristiwa geopolitik ini bisa menjadi pemicu percepatan transisi energi di Indonesia, terutama mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV) sebagai alternatif dari kendaraan berbahan bakar minyak fosil yang kini semakin mahal dan rentan terhadap gangguan pasokan global.

Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, minat terhadap sepeda motor listrik mulai meningkat, didukung kebijakan pemerintah yang memberi insentif pajak untuk EV serta beberapa program konversi dari motor BBM ke motor listrik. Meski tantangan infrastruktur masih ada, produsen otomotif berlomba memperluas jaringan pengisian daya (charging station).

Sektor industri otomotif mencatat peningkatan penjualan mobil listrik impor dan produksi kendaraan listrik lokal pada kuartal pertama 2026, yang sebagian dipicu oleh kekhawatiran konsumen terhadap volatilitas harga BBM akibat konflik di Timur Tengah.

Pemerintah Indonesia menyatakan siap mempercepat pembangunan infrastruktur EV nasional untuk mengantisipasi titik balik energi fosil yang semakin tidak stabil. Percepatan ini mencakup perluasan charging station, dukungan domestik terhadap baterai EV, serta kebijakan fiskal yang semakin ramah kepada kendaraan ramah lingkungan.

Para pakar memperingatkan bahwa kelangkaan BBM bukan lagi sekadar isu harga, tetapi juga ketahanan energi nasional, sehingga pergeseran masyarakat ke kendaraan listrik — meski belum total — menjadi salah satu strategi penting Indonesia dalam menghadapi risiko geopolitik yang berulang di pasar minyak dunia.

Penulis adalah Kader PSI dan Pengamat Sosial Politik Indonesia 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA