Nyala Api Rausyan Fikr Ali Syari’ati dan Gugatan Kemanusiaan

5 minutes reading
Friday, 13 Mar 2026 07:06 224 Aktivis

Oleh : Sapto Raharjanto

 

Ali Syari’ati bukan sekadar nama dalam deretan sejarah pemikiran Islam, ia adalah sebuah fenomena. Di tengah hiruk-pikuk modernitas yang mekanistik dan tradisionalisme yang jumud, Syari’ati hadir sebagai jembatan yang menghubungkan kedalaman spiritualitas dengan keberanian revolusioner. Ia adalah sosok yang mengubah doa menjadi amunisi perlawanan dan mengubah masjid menjadi ruang dialektika sosial.

 

Lahir pada 1933 di Mazinan, Iran, Syari’ati tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan tradisi keilmuan Islam namun terbuka terhadap kritik sosial. Perjalanannya ke Paris untuk menempuh studi doktoral di Universitas Sorbonne menjadi titik balik krusial. Di sana, ia tidak hanya menyerap sosiologi dan filsafat Barat, tetapi juga bersinggungan langsung dengan gerakan eksistensialisme Jean-Paul Sartre serta semangat dekolonisasi Frantz Fanon.

 

Persentuhan ini melahirkan kegelisahan intelektual yang unik. Syari’ati melihat bahwa masyarakat Muslim saat itu sedang “tertidur.” Mereka terjebak di antara dua kutub yang sama-sama mematikan, westernisasi yang mencabut akar budaya (alienasi) dan agama statis yang hanya mementingkan ritual tanpa kepedulian sosial. Sekembalinya ke Iran, ia menjadi magnet bagi kaum muda dan mahasiswa melalui kuliah-kuliahnya di Hosseiniye Ershad, yang kemudian menjadi pusat persemaian ide-ide revolusi.

 

Syari’ati menawarkan rekonstruksi pemikiran Islam yang radikal. Baginya, Islam bukan sekadar kumpulan aturan fikih atau diskusi teologis yang kering, melainkan sebuah Ideologi Pembebasan.

 

1. Tauhid sebagai Struktur Sosial

Bagi Syari’ati, Tauhid bukan hanya pengakuan bahwa Tuhan itu satu secara numerik, melainkan sebuah pandangan dunia yang menegaskan kesatuan alam semesta dan kesetaraan umat manusia. Jika Tuhan itu satu, maka tidak boleh ada tuhan-tuhan kecil di bumi berupa penguasa tiran, sistem kapitalisme yang menghisap, atau klerus yang memanipulasi agama untuk kepentingan status quo.

 

2. Dialektika Habil dan Qabil

Ayariati menerjemahkan kisah primordial Habil dan Qabil ke dalam kacamata sosiologis. Sejarah manusia adalah sejarah pertarungan abadi antara dua kutub, Kutub Habil (masyarakat tanpa kelas, keadilan, dan kejujuran) melawan Kutub Qabil (kepemilikan pribadi, penindasan, dan tipu daya). Dalam konteks modern, Qabil mewujud dalam trilogi kekuatan penindas, Zar (emas/kapitalisme), Zor (kekuatan/politik tiran), dan Tazwir (penyesatan/agama yang membius).

 

3. Rausyan Fikr (Intelektual Tercerahkan)

Inilah konsep Syari’ati yang paling populer. Rausyan Fikr adalah individu yang memiliki kesadaran diri dan kesadaran sosial. Berbeda dengan ilmuwan yang mungkin hanya sibuk dengan data, seorang Rausyan Fikr merasa bertanggung jawab atas penderitaan rakyatnya. Mereka adalah “nabi-nabi tanpa wahyu” yang bertugas meniupkan sangkakala kesadaran pada massa yang terlelap.

 

4. Syi’ah Merah vs Syi’ah Hitam

Syari’ati melakukan pembersihan sejarah. Ia membedakan “Syi’ah Merah” yang melambangkan syahadat, pengorbanan Imam Husain, dan perlawanan terhadap ketidakadilan, dengan “Syi’ah Hitam” yang penuh dengan ratapan pasif, ritualitas kosong, dan kolaborasi dengan penguasa zalim.

 

Pengaruh Syari’ati di Iran era 1970-an sangat masif. Tulisan-tulisannya yang disebarkan secara sembunyi-sembunyi menjadi “buku teks” bagi para aktivis yang ingin menumbangkan rezim Shah yang pro-Barat. Ia berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan oleh banyak ulama tradisional, berbicara dalam bahasa sosiologi yang dipahami anak muda, namun tetap berakar pada tradisi Islam yang otentik.

 

Meskipun Ali syariati wafat secara misterius di London pada 1977, hanya dua tahun sebelum puncak Revolusi Iran namun ruh pemikirannya adalah bahan bakar utama gerakan tersebut. Syari’ati adalah arsitek spiritual yang memberikan landasan intelektual bagi rakyat untuk percaya bahwa mereka memiliki hak dan kewajiban untuk mengubah nasib mereka sendiri di bawah naungan kehendak Tuhan.

 

Jika kita membawa pemikiran Syari’ati ke dalam konteks Indonesia hari ini, kita akan menemukan relevansi yang menggetarkan sekaligus menyakitkan. Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang mirip dengan apa yang dikritik Syari’ati puluhan tahun lalu.

 

1. Agama sebagai Komoditas dan Simbol: Di Indonesia, kita melihat penguatan religiusitas di ruang publik, namun seringkali berhenti pada kulit luar. Fenomena “hijrah” yang bersifat konsumtif atau penggunaan simbol agama untuk kepentingan politik praktis mencerminkan apa yang disebut Syari’ati sebagai agama yang kehilangan daya ledak sosialnya.

 

2. Kesenjangan Kelas dan “Qabil Modern”: Trilogi Zar, Zor, dan Tazwir tampak nyata dalam koalisi antara oligarki ekonomi, kekuasaan politik yang sentralistik, dan penggunaan narasi agama untuk menjustifikasi kebijakan yang merugikan rakyat kecil (seperti perampasan lahan atau kerusakan lingkungan).

 

3. Krisis Rausyan Fikr: Kampus-kampus kita semakin terjebak dalam birokrasi dan target administratif. Banyak intelektual yang lebih memilih menjadi “staf ahli” penguasa atau mengejar jabatan fungsional daripada menjadi penyambung lidah bagi mereka yang terpinggirkan. Syari’ati akan menangis melihat intelektual yang bungkam di hadapan ketidakadilan demi kenyamanan posisi.

 

Ali Syari’ati mengingatkan kita bahwa berislam tanpa keberpihakan pada kaum tertindas (mustad’afin) adalah sebuah kepalsuan. Tauhid sejati di Indonesia haruslah mewujud dalam perjuangan melawan letimpangan kepemilikan lahan, korupsi, penegakan hak asasi manusia, dan distribusi kekayaan yang adil.

 

Ali Syari’ati telah tiada, namun “nyala api” pemikirannya tetap relevan sebagai kompas moral bagi siapa saja yang merindukan keadilan. Ia mengajarkan bahwa agama tidak boleh menjadi candu yang menidurkan, melainkan harus menjadi kesadaran yang membangkitkan. Menjadi seorang Muslim berarti menjadi seorang pemberontak terhadap segala bentuk penghambaan manusia atas manusia lainnya.

 

Dunia hari ini tidak hanya butuh orang pintar, tapi butuh Rausyan Fikr yang memiliki hati yang bergetar melihat kemiskinan dan tangan yang bergerak untuk meruntuhkan tembok penindasan.

Penulis adalah kontributor aktivis.id

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA