Ketika Kritik Dijawab dengan Mobilisasi, Apa yang Sedang Kita Wariskan untuk Generasi Mendatang?

3 minutes reading
Wednesday, 24 Jun 2026 16:15 6 Aktivis

Oleh : SADHAN

Saya ingin mengajak kita semua melihat persoalan ini dengan kepala dingin, bukan sebagai pendukung atau penentang pemerintah, melainkan sebagai warga negara yang sama-sama mencintai Indonesia.

Belakangan ini, perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin mengemuka. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai terobosan besar yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat. Di sisi lain, banyak mahasiswa, akademisi, dan kelompok masyarakat sipil yang mempertanyakan prioritas anggaran, tata kelola, serta dampak jangka panjang program tersebut terhadap sektor pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia. Perdebatan mengenai prioritas pendidikan dan implementasi MBG memang menjadi bagian dari diskusi publik yang terus berlangsung.

Dalam negara demokrasi, perbedaan pandangan seperti ini seharusnya menjadi hal yang sehat. Kritik bukanlah ancaman. Kritik adalah bentuk kepedulian. Sebab orang yang masih mengkritik biasanya masih memiliki harapan agar keadaan menjadi lebih baik.

Yang menjadi kegelisahan saya bukanlah soal setuju atau tidak setuju terhadap MBG. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kritik yang lahir dari ruang akademik dan kegelisahan publik seolah tidak dijawab dengan dialog yang terbuka. Padahal mahasiswa dan kelompok kritis lainnya tidak sedang meminta untuk selalu dibenarkan. Mereka hanya ingin didengar dan diberikan jawaban yang masuk akal berdasarkan data, evaluasi, dan transparansi.

Di saat yang sama, publik juga menyaksikan munculnya kelompok-kelompok yang membela keberlangsungan program. Sebagian besar di antaranya merupakan pihak yang terlibat langsung dalam operasional program, termasuk pengelola dapur dan mitra pelaksana yang memang memiliki kepentingan ekonomi terhadap keberlanjutan kebijakan tersebut. Fenomena ini sebenarnya dapat dipahami. Ketika seseorang telah berinvestasi tenaga, waktu, bahkan modal untuk sebuah program, tentu mereka berharap program itu terus berjalan. Namun kondisi tersebut juga mengingatkan kita bahwa dukungan terhadap suatu kebijakan tidak selalu lahir dari sudut pandang yang sama dengan kritik terhadap kebijakan tersebut.

 

Pertanyaannya kemudian bukan siapa yang paling keras bersuara.

Pertanyaannya adalah : apakah bangsa ini masih menyediakan ruang yang cukup bagi kritik yang jujur?

 

Karena sejarah menunjukkan bahwa kemajuan tidak pernah lahir dari keseragaman pendapat. Kemajuan justru lahir dari perdebatan yang sehat, dari keberanian mempertanyakan kebijakan, dan dari kesediaan penguasa untuk mendengarkan suara yang berbeda.

Saya khawatir jika kita mulai terbiasa mengukur kebenaran dari jumlah massa yang hadir, bukan dari kualitas argumentasi yang disampaikan. Sebab massa bisa dikumpulkan dalam sehari, tetapi gagasan yang kuat membutuhkan proses berpikir yang panjang.

Lebih jauh lagi, saya khawatir terhadap masa depan generasi yang akan datang.

Apakah mereka akan tumbuh menjadi generasi yang kritis dan berani berpikir mandiri?

Ataukah mereka akan tumbuh dalam budaya yang menganggap kritik sebagai ancaman dan pujian sebagai satu-satunya bentuk loyalitas?

Bangsa maju bukan hanya bangsa yang mampu memberi makan anak-anaknya hari ini. Bangsa maju adalah bangsa yang mampu memastikan anak-anak tersebut memiliki pendidikan yang berkualitas, kemampuan berpikir kritis, kesehatan yang baik, akses terhadap ilmu pengetahuan, serta kebebasan untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.

Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh satu program, satu tokoh, atau satu periode pemerintahan.

Masa depan Indonesia ditentukan oleh apakah generasi hari ini masih memiliki keberanian untuk bertanya ketika melihat sesuatu yang dianggap keliru, dan apakah para pemegang kekuasaan masih memiliki kebesaran hati untuk mendengarkan.

 

Penulis adalah Ketua Yayasan Suara petani Indonesia Cabang Bojonegoro

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA