Indonesia Darurat Literasi, Dana BOS di Bojonegoro Harus Fokus Kepada Perkembangan Minat Baca Siswa

4 minutes reading
Friday, 28 Nov 2025 13:18 191 Aktivis

Kondisi tragis dialami secara tutun temurun di dunia pendidikan Indonesia karena mengalami peristiwa yang sama secara berulang ulang tiap generasi bangsa dan hal itu sangat mempengaruhi masa depan peradaban Negara ini.

UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

 

Fakta kedua, 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

 

Ironisnya, meski minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. Tidak heran dalam hal kecerewetan di media sosial orang Indonesia berada di urutan ke 5 dunia. Juara deh. Jakarta lah kota paling cerewet di dunia maya karena sepanjang hari, aktivitas kicauan dari akun Twitter yang berdomisili di ibu kota Indonesia ini paling padat melebihi Tokyo dan New York. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris.

 

 

Monitoring dan Evaluasi Bantuan Operasional Sekolah Harus Fokus kepada Literasi Siswa

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan program pemerintah pusat untuk membantu pendanaan biaya operasional sekolah. Dana BOS bisa digunakan untuk administrasi kegiatan sekolah, penyediaan alat-alat pembelajaran, pengembangan perpustakaan, pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, dan lain-lain.

 

Monitoring dan evaluasi pendidikan merupakan instrumen penting untuk memastikan proses belajar mengajar berjalan efektif dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Namun, dalam praktiknya, banyak sekolah masih menilai keberhasilan pendidikan hanya berdasarkan pencapaian akademik umum tanpa memberi perhatian khusus pada kemampuan dasar yang justru menjadi fondasi kemajuan bangsa yakni literasi membaca dan menulis. Padahal, kemampuan literasi adalah prasyarat utama bagi terbentuknya sumber daya manusia yang unggul, kritis, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Untuk menjadi negara maju, kualitas literasi masyarakat harus berada pada level yang tinggi. Literasi tidak sekadar kemampuan mengeja atau memahami teks sederhana, tetapi mencakup kemampuan berpikir kritis, memproses informasi, serta mengekspresikan gagasan secara jelas dan terstruktur. Tanpa literasi yang kuat, peserta didik akan kesulitan memahami materi pelajaran lain, mengembangkan kreativitas, atau berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa.

Monitoring dan evaluasi pendidikan seharusnya memberi perhatian lebih pada pengukuran kemampuan literasi sejak jenjang sekolah dasar hingga menengah. Guru dan lembaga pendidikan perlu memiliki indikator yang jelas dan terukur untuk menilai perkembangan membaca dan menulis siswa, bukan hanya melalui ujian, tetapi juga melalui pembiasaan membaca, penulisan kreatif, dan proyek literasi yang berkelanjutan.

 Sekolah harus memastikan bahwa lingkungan belajar wajib mendukung tumbuhnya budaya literasi, termasuk ketersediaan bahan bacaan yang beragam, akses perpustakaan yang memadai, serta program pendampingan literasi yang rutin.

Penguatan literasi dalam monitoring dan evaluasi pendidikan juga menuntut keterlibatan berbagai pihak, mulai dari guru, kepala sekolah, pemerintah, hingga orang tua. Kolaborasi ini diperlukan untuk menyediakan fasilitas yang memadai, mengembangkan kurikulum yang relevan, dan menciptakan ekosistem literasi yang merata. Dengan cara ini, setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kemampuan literasinya.

Jika sektor literasi mendapat porsi perhatian yang lebih besar dalam sistem evaluasi pendidikan, Indonesia dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga terampil membaca konteks, mampu menulis ide, serta siap bersaing di tingkat global. Literasi adalah kunci pembuka jalan menuju negara maju, dan monitoring serta evaluasi pendidikan yang tepat akan menjadi mesin penggeraknya.

 

Penulis

SAHDAN

Ketua Yayasan Suara Petani Indonesia

Cabang Bojonegoro

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA