Oleh : Sapto Raharjanto
Sejarah pergerakan sosial di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran petani sebagai tulang punggung bangsa. Di antara sekian banyak organisasi yang pernah tumbuh, Barisan Tani Indonesia (BTI) mencatatkan diri sebagai organisasi massa petani terbesar dan paling berpengaruh pada masanya, khususnya antara tahun 1950 hingga 1965. Dengan jutaan anggota yang tersebar di pelosok desa, BTI bukan sekadar perkumpulan biasa, BTI adalah mesin pendidikan politik dan pemberdayaan ekonomi yang sangat disiplin. Apa yang membuat BTI begitu kuat? Rahasianya terletak pada sistem kaderisasinya yang unik, yang menggabungkan militansi ideologis dengan kedekatan emosional yang luar biasa terhadap realitas di lapangan.
Barisan Tani Indonesia lahir dari semangat revolusi pasca-kemerdekaan. Sebagai organisasi yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), BTI memiliki visi yang jelas yaitu menghancurkan sisa-sisa feodalisme di pedesaan dan memperjuangkan tanah bagi petani penggarap. Di era tersebut, struktur agraria Indonesia masih sangat timpang, di mana segelintir tuan tanah menguasai ribuan hektar, sementara mayoritas petani hanya menjadi buruh tani yang terjepit kemiskinan.
BTI hadir untuk menyuarakan slogan “Tanah untuk Petani”. Namun, mereka menyadari bahwa retorika politik saja tidak cukup. Untuk mengubah nasib, petani butuh kesadaran kelas. Di sinilah BTI membangun sistem kaderisasi yang memaksa para aktivis kota atau intelektual untuk meninggalkan menara gading mereka dan benar-benar “berbau lumpur” bersama rakyat.
Jantung dari kaderisasi BTI adalah metode Turba (Turun ke Bawah). Turba bukanlah kunjungan kerja formal yang hanya dilakukan selama beberapa jam. Turba adalah sebuah proses “peleburan” diri. Para kader diperintahkan untuk meninggalkan kenyamanan kota dan hidup di tengah-tengah desa dalam jangka waktu yang lama.
Tujuannya adalah untuk menghapus jarak sosial. BTI percaya bahwa seorang aktivis tidak akan bisa memperjuangkan hak petani jika ia tidak merasakan pedihnya punggung yang terbakar matahari atau perut yang lapar karena gagal panen. Melalui Turba, kader belajar memahami psikologi petani, adat istiadat setempat, serta hambatan-hambatan nyata yang dihadapi di lapangan, mulai dari masalah hama hingga jeratan rentenir.
Dalam pelaksanaan Turba BTI dikenal konsep 3S yaitu Sama-sama Kerja, Sama-sama Makan, dan Sama-sama Tidur. Ini adalah manifestasi dari solidaritas tanpa batas.
Sama-sama Kerja: Kader tidak datang sebagai mandor. Mereka ikut mencangkul, menanam padi, hingga memikul hasil panen. Dengan bekerja bersama, kader mendapatkan legitimasi dan kepercayaan dari petani.
Sama-sama Makan: Kader memakan apa yang dimakan petani. Jika petani hanya makan singkong rebus, maka kader pun demikian. Hal ini menghilangkan rasa canggung dan membangun rasa persaudaraan.
Sama-sama Tidur: Kader tidur di gubuk petani, beralaskan tikar yang sama. Ini menunjukkan bahwa tidak ada hierarki antara si terpelajar dan si buta huruf.
Untuk menjaga disiplin dan nama baik organisasi, BTI menerapkan aturan ketat yang dikenal dengan 4J (Larangan) dan 4H (Kewajiban). Aturan ini sangat taktis dan sosiologis, bertujuan agar kehadiran kader tidak menjadi beban atau ancaman bagi warga desa.
Etika 4J (Jangan)
1. Jangan tidur di rumah penghisap: Kader dilarang menginap di rumah tuan tanah atau pihak yang mengeksploitasi petani, agar tidak terjadi konflik kepentingan.
2. Jangan menggurui: Kader harus mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Petani adalah guru tentang alam, kader adalah guru tentang pengorganisasian.
3. Jangan merugikan tuan rumah: Kehadiran kader tidak boleh mengurangi jatah makan keluarga petani yang ditumpangi.
4. Jangan mencatat di depan petani: Mencatat saat berbincang bisa membuat petani merasa diinterogasi. Kader dilatih untuk mengingat informasi dan mencatatnya secara sembunyi-sembunyi kemudian.
Harus 3S: Menjalankan kerja, makan, dan tidur bersama.
Etika 4H (Harus)
Harus rendah hati: Menghargai kearifan lokal.
Harus tahu adat: Menghormati norma dan tradisi setempat.
Harus membantu masalah petani: Memberikan solusi nyata, baik itu teknik bertani baru maupun bantuan hukum.
Selain mentalitas, BTI juga fokus pada pemberantasan kebodohan. Kader mengorganisir kursus-kursus singkat untuk mengajarkan teknik pertanian modern, cara membentuk koperasi, hingga literasi hukum terkait land reform. Mereka juga berupaya mengikis takhayul atau kepercayaan kolot yang seringkali membuat petani pasrah pada nasib. Pendidikan ini dirancang agar petani menjadi subjek yang aktif, bukan sekadar objek politik.
Melihat metode BTI, ada banyak pelajaran berharga bagi organisasi sosial di era kekinian. Saat ini, banyak organisasi yang terjebak pada pendekatan “proyek”. Aktivis turun ke lapangan hanya saat ada anggaran, melakukan sosialisasi di hotel berbintang, dan pulang tanpa benar-benar memahami denyut nadi masyarakat.
Yang harus menjadi refleksi kita bersama apakah kita masih memiliki kedekatan emosional dengan konstituen kita, Tanpa adanya “peleburan” seperti Turba, organisasi hanya akan menjadi asing di mata rakyat yang mereka bela.
Kepercayaan (trust) adalah mata uang utama dalam pengorganisasian massa, dan kepercayaan itu hanya bisa didapat melalui kehadiran fisik dan empati yang tulus.
Bagi generasi muda dan aktivis tani saat ini, sejarah BTI memberikan inspirasi tentang pentingnya disiplin dan militansi. Perjuangan agraria saat ini jauh lebih kompleks dengan adanya ekspansi industri dan perubahan iklim. Namun, prinsip dasarnya tetap sama yaitu perjuangan harus berangkat dari realitas akar rumput.
Aktivis muda perlu belajar bahwa perubahan tidak bisa hanya diperjuangkan melalui petisi daring atau kampanye media sosial. Perubahan membutuhkan kehadiran di lapangan. Dengan mengadopsi semangat Turba meski dengan cara yang lebih modern generasi muda bisa membangun gerakan yang lebih solid. Membantu petani bukan berarti memberi sedekah, melainkan membangun kekuatan bersama untuk kemandirian pangan dan keadilan ruang hidup.
BTI mungkin telah menjadi bagian dari sejarah masa lalu, namun metode pengorganisasiannya yang sistematis tetap menjadi “buku teks” yang relevan. Keberhasilan mereka merangkul jutaan orang adalah bukti bahwa ketika sebuah ideologi bertemu dengan ketulusan untuk hidup bersama rakyat, maka akan menjadi kekuatan yang tak terbendung.
Penulis adalah kontributor media Aktivis.id
No Comments