Oleh : Sapto Raharjanto
Di tengah hiruk-pikuk pergerakan nasional awal abad ke-20, seorang pemuda bernama Soekarno melontarkan sebuah gagasan yang berani dan revolusioner melalui tulisannya di majalah Suluh Indonesia Muda. Gagasan tersebut bukan sekadar teori akademis, melainkan sebuah strategi politik yang berusaha menjembatani jurang pemisah antara berbagai faksi perjuangan. Melalui konsep Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme, Bung Karno berusaha membuktikan bahwa ketiga ideologi besar ini, meskipun memiliki akar filosofis yang berbeda, sebenarnya berdiri di atas pijakan yang sama yaitu perlawanan terhadap penindasan kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme.
Bagi Bung Karno, penjajahan Belanda di Indonesia bukanlah sekadar masalah perebutan wilayah, melainkan sebuah sistem ekonomi global yang rakus. Bung Karno melihat kapitalisme sebagai mesin penggerak imperialisme. Di bawah sistem ini, rakyat Indonesia diperas melalui konsep meerwaarde atau nilai lebih, sebuah istilah Marxis yang merujuk pada keuntungan yang diambil dari keringat buruh dan rakyat kecil tanpa kompensasi yang adil.
Imperialisme, dalam pandangan Soekarno, adalah “anak kandung” kapitalisme yang mencari pasar baru dan bahan mentah murah di negeri-negeri timur. Inilah yang menyebabkan rakyat Indonesia mengalami kemiskinan yang sistematis. Bung Karno memahami bahwa untuk melawan raksasa sebesar imperialisme global, rakyat tidak boleh tercerai-berai oleh sekat ideologi. Oleh karena itu, Bung Karno mencari benang merah yang dapat mengikat kaum Nasionalis, Islamis, dan Marxis dalam satu barisan tempur yang kokoh.
Kepada kaum Nasionalis, Bung Karno memberikan teguran yang tajam. Beliau mengingatkan bahwa nasionalisme yang sempit yang merasa benar sendiri dan enggan bekerja sama dengan kelompok lain adalah nasionalisme yang buta sejarah. Menurut Bung Karno, gerakan Marxis di Asia muncul dari rahim yang sama dengan gerakan Nasionalis yaitu penderitaan rakyat akibat kolonialisme.
Nasionalisme yang diusung Bung Karno bukanlah nasionalisme chauvinistik yang membenci bangsa lain, melainkan nasionalisme yang humanis. Beliau menekankan bahwa arah pergerakan Nasionalis sering kali sejalan dengan tuntutan kaum Marxis dalam hal membela hak-hak rakyat jelata. Tanpa persatuan dengan kelompok progresif lainnya, gerakan nasionalis hanya akan menjadi gerakan elite yang kehilangan akar kerakyatannya. Nasionalisme harus menjadi “wadah” yang menampung segala aspirasi demi satu tujuan yaitu kemerdekaan penuh dari segala bentuk eksploitasi manusia atas manusia lainnya.
Bung Karno memiliki kedekatan intelektual dan spiritual dengan nilai-nilai Islam. Kepada kaum Muslim, beliau mengingatkan bahwa Islam yang sejati adalah agama yang progresif dan berpihak pada kaum lemah (Mustad’afin). Bung Karno mengutip larangan riba dan bunga dalam Islam sebagai bukti autentik bahwa agama ini secara fundamental menentang sistem kapitalisme yang berbasis pada akumulasi nilai lebih (meerwaarde).
Bagi Bung Karno, jerit dan tangis rakyat Indonesia yang semakin terjepit ekonominya adalah panggilan bagi umat Islam untuk bangkit. Beliau melihat bahwa nilai-nilai keadilan sosial dalam Islam memiliki kesamaan tujuan dengan semangat perjuangan Marxisme dalam menumbangkan struktur kelas yang menindas. Seorang “Islamis sejati” tidak seharusnya memusuhi Marxisme hanya karena perbedaan label, karena keduanya sama-sama memerangi ketidakadilan ekonomi. Islam dalam pandangan Soekarno adalah kekuatan revolusioner yang mampu menggerakkan massa untuk melawan tirani kolonial yang menghisap kekayaan alam dan tenaga kerja rakyat.
Kepada kaum Marxis, Bung Karno mengingatkan agar mereka tidak bersikap dogmatis dan menutup diri terhadap agama. Bung Karno menekankan bahwa pergerakan Islam di Indonesia secara nyata bersifat anti-kapitalis melalui prinsip anti-riba. Marxisme di Indonesia harus beradaptasi dengan kondisi sosiologis masyarakat yang religius.
Bung Karno memandang Marxisme sebagai alat analisis atau “pisau bedah” untuk memahami mekanisme penindasan ekonomi. Namun, bung Karno menolak pandangan Marxisme yang anti-agama. Bagi beliau, Marxisme di Indonesia harus bekerja sama dengan kekuatan Islam karena keduanya memiliki sasaran tembak yang sama yaitu sistem ekonomi kolonial yang menindas. Jika kaum Marxis memusuhi Islam, mereka sama saja dengan memusuhi rakyat yang mereka perjuangkan, karena mayoritas rakyat Indonesia adalah penganut Islam yang taat.
Ketiga ideologi ini yaitu Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme dalam kacamata Bung Karno adalah tiga pilar yang saling memperkuat. Nasionalisme memberikan semangat cinta tanah air, Islamisme memberikan landasan moral dan spiritual untuk keadilan sosial, dan Marxisme memberikan metode untuk membongkar ketimpangan struktur ekonomi.
Pesan Bung Karno sangat jelas jangan biarkan perbedaan teknis ideologis menjadi penghalang untuk menghadapi musuh yang nyata. Musuh bangsa saat itu bukanlah perbedaan antara “doa” dan “dialektika”, melainkan moncong senjata dan kebijakan ekonomi penjajah yang menghisap darah rakyat. Bung Karno menyerukan agar setiap kelompok memfokuskan energi mereka pada titik temu, yaitu anti-kapitalisme dan anti-imperialisme.
Konsep ini menunjukkan kecerdasan politik Bung Karno dalam melakukan sinkretisme ideologi. Beliau menyadari bahwa di tanah air yang majemuk ini, tidak ada satu kekuatan tunggal yang mampu meruntuhkan benteng kolonialisme sendirian. Hanya dengan persatuan yang melampaui batas-batas kepercayaan dan aliran politik, Indonesia bisa berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Membaca kembali pemikiran Bung Karno hari ini akan mengingatkan kita bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak boleh terfragmentasi. Meskipun konteks zaman telah berubah dari kolonialisme fisik menjadi neo-liberalisme global, substansi pesannya tetap relevan yaitu persatuan adalah kunci.
Ketajaman Bung Karno dalam melihat benang merah antara ajaran agama dan teori sosial ekonomi memberikan pelajaran penting tentang inklusivitas. Bung Karno mengajarkan bahwa kita tidak perlu menanggalkan jati diri kita sebagai Nasionalis, sebagai Muslim, atau sebagai penganut ideologi kerakyatan lainnya untuk bisa bekerja sama. Kita hanya perlu menemukan “musuh bersama” kita hari ini, entah itu kemiskinan, ketimpangan ekonomi, atau kerusakan lingkungan kita harus menghadapinya dengan barisan yang rapat.
Akhirnya, pemikiran Bung Karno tentang Nasakom dalam esai “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” adalah sebuah manifesto besar tentang perdamaian internal demi perlawanan eksternal. Bung Karno membuktikan bahwa di bawah langit Indonesia, perbedaan pendapat adalah niscaya, namun persatuan dalam melawan penindasan adalah kewajiban yang suci. Kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati hari ini adalah buah dari keberanian para pendahulu kita untuk meruntuhkan ego kelompok demi kepentingan bangsa yang lebih besar.
Penulis adalah kontributor media aktivis.id
No Comments