Oleh : Tiara Primavika Bestari
Dunia hiburan Indonesia mengenal Drs. Wahjoe Sardono sebagai sosok jenaka dengan wajah ikonik yang kerap menjadi sasaran rundungan rekan-rekannya di layar kaca. Namun, di balik tawa renyah dan akting “bodoh” yang ia perankan, tersimpan kedalaman intelektual dan keberanian politik yang jarang tandingannya. Dono bukan sekadar pelawak, ia adalah seorang sosiolog, pendidik, dan aktivis yang menjadikan komedi sebagai senjata pamungkas untuk membedah borok kekuasaan.
Lahir di Delanggu, Klaten, pada 30 September 1951, Dono membawa napas intelektualitas sejak masa mudanya di Solo hingga merantau ke Jakarta. Keputusannya mendalami sosiologi di Universitas Indonesia (UI) bukanlah kebetulan. Di sana, ia mengasah pisau analisisnya terhadap struktur sosial masyarakat Indonesia. Ketajaman berpikirnya membawa Dono menjadi asisten dosen bagi sosiolog legendaris Selo Soemardjan, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kapasitas otaknya jauh melampaui karakter lugu yang ia mainkan di film.
Bagi Dono, sosiologi dan komedi adalah dua sisi dari koin yang sama, keduanya bertugas mengamati fenomena sosial. Bedanya, sosiologi menyampaikannya lewat jurnal ilmiah, sementara komedi menyampaikannya lewat tawa. Dono memahami betul bahwa di bawah tekanan rezim yang represif, kebenaran sering kali hanya bisa disampaikan melalui sindiran yang dibungkus komedi.
Bersama Kasino dan Indro, Dono membangun Warkop DKI menjadi institusi kritik sosial paling efektif pada masanya. Era di mana kebebasan berpendapat dibatasi oleh sensor ketat, Warkop DKI berhasil menyelipkan pesan-pesan subversif melalui dialog-dialog spontan dan sketsa yang tajam. Mereka memotret kesenjangan sosial, gaya hidup pejabat yang korup, hingga ketidakefektifan birokrasi dengan cara yang sangat membumi.
Dono sering kali memerankan tokoh rakyat kecil yang terhimpit sistem, atau sosok dari daerah yang mencoba bertahan di kerasnya ibu kota. Melalui karakter tersebut, ia menyuarakan kegelisahan “kaum marhaen” meminjam istilah Soekarno yang sering ia pelajari yang suaranya kerap dibungkam oleh deru pembangunan. Warkop bukan sekadar grup lawak; mereka adalah katup pengaman bagi kegelisahan publik yang tidak berani bersuara secara langsung.
Keberanian Dono tidak berhenti di depan kamera. Ia adalah saksi hidup sekaligus aktor dalam sejarah panjang gerakan mahasiswa di Indonesia. Pada peristiwa Malari 1974, Dono sudah berada di garis depan menentang dominasi modal asing. Baginya, komitmen pada keadilan sosial adalah harga mati yang harus dibayar oleh setiap intelektual.
Puncak dari perjuangan politik ini terjadi pada tahun 1998. Saat gerakan mahasiswa mulai memanas menuntut pengunduran diri Soeharto, Dono tidak hanya berdiam diri di ruang dosen. Ia turun ke jalan, bergabung dengan ribuan mahasiswa di gedung DPR/MPR. Dono terlibat aktif dalam menyusun kerangka acuan orasi dan strategi aksi. Dengan otoritas moralnya sebagai dosen sekaligus figur publik, ia menjadi tameng yang efektif bagi para mahasiswa.
Ada cerita heroik yang melegenda saat Dono dengan berani menyiramkan air selang ke arah aparat yang mengejar mahasiswa untuk meredakan gas air mata. Ia bukan hanya “maskot” gerakan, melainkan pemikir yang ikut merancang arah perubahan bangsa. Dono membuktikan bahwa seorang seniman memiliki tanggung jawab moral untuk berpihak pada rakyat saat kekuasaan mulai buta.
Dono meninggal dunia pada 30 Desember 2001 akibat kanker paru-paru dan lever. Ia pergi meninggalkan warisan yang melampaui sekadar koleksi film komedi. Ia meninggalkan standar baru tentang bagaimana seorang figur publik harus bersikap. Dono adalah simbol dari disiplin ilmu yang bertemu dengan kepekaan nurani.
Hingga akhir hayatnya, ia tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana. Di kampus, Dono adalah dosen yang tegas dan sangat menghargai integritas akademik. Di rumah, ia adalah ayah yang berjuang keras menyekolahkan anak-anaknya hingga mencapai kesuksesan di bidang teknik dan sains, membuktikan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama.
Wahjoe Sardono telah tiada, namun “Dono” akan selalu hidup dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia. Ia mengajarkan kita bahwa menertawakan keadaan adalah cara terbaik untuk menjaga kewarasan di tengah ketidakadilan. Melalui kiprahnya, kita belajar bahwa untuk menjadi lucu, seseorang harus cerdas; dan untuk menjadi pejuang, seseorang harus memiliki empati yang tulus terhadap derita sesamanya.
Penulis adalah kontributor aktivis.id
No Comments