W.S. Rendra Burung Merak dan Panggung Perlawanan

4 minutes reading
Thursday, 26 Mar 2026 09:41 156 Aktivis

 

Oleh : Tiara Primavika Bestari

W.S. Rendra bukan sekadar nama dalam buku pelajaran sastra. Ia adalah sebuah fenomena budaya yang lahir dari rahim pergolakan sosial Indonesia. Lahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto pada 7 November 1935 di Solo, sosok yang kelak dijuluki “Si Burung Merak” ini menempuh perjalanan hidup yang penuh warna, mulai dari romantisnya sajak liris hingga tajamnya kritik politik yang membuatnya keluar masuk penjara.

 

Pendidikan Rendra di Universitas Gadjah Mada membentuk landasan intelektualnya. Namun, titik balik gaya seninya terjadi setelah ia menimba ilmu di American Academy of Dramatic Arts (AADA), New York. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1967, ia membawa napas baru bagi dunia teater dengan mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta.

Pada periode ini, Rendra tidak hanya bertransformasi secara artistik tetapi juga spiritual dengan memeluk agama Islam. Bengkel Teater menjadi kawah candradimuka bagi seniman-seniman muda. Di sana, seni bukan lagi sekadar hiburan estetis, melainkan alat untuk membedah realitas sosial. Rendra mulai meninggalkan sajak-sajak asmara dan beralih ke puisi-puisi “pamplet” yang lugas dan berani.

 

Kisah hidup Rendra adalah studi kasus yang menarik mengenai pertarungan antara idealisme dan oportunisme. Dalam sosiologi seni, kita mengenal Teori Arena Produksi Budaya dari Pierre Bourdieu. Teori ini menjelaskan bahwa seorang seniman beroperasi dalam sebuah “arena” di mana terdapat perebutan modal simbolis (reputasi) dan modal ekonomi (uang/kekuasaan).

Rendra memilih jalur idealisme yang ekstrem. Di saat banyak intelektual atau seniman memilih menjadi “oportunis” dengan mendekat pada kekuasaan demi keamanan posisi dan fasilitas, Rendra justru memosisikan dirinya sebagai oposisi permanen. Oportunisme dalam konteks Orde Baru sering kali berwujud kepatuhan demi kelangsungan hidup. Namun bagi Rendra, kompromi terhadap ketidakadilan adalah pengkhianatan terhadap nurani.

 

Karya-karyanya seperti Sajak Sebatang Lisong dan pementasan Mastodon dan Burung Kondor adalah manifestasi dari idealisme yang tak mau dibeli. Ia menggambarkan penguasa sebagai “Mastodon” makhluk purba yang rakus namun lamban yang akan dikalahkan oleh “Burung Kondor” yang melambangkan kebebasan dan perubahan. Pilihannya untuk tetap bersuara meski harus menghadapi bom amonia di Taman Ismail Marzuki (1978) dan penjara militer membuktikan bahwa baginya, integritas jauh lebih berharga daripada kenyamanan material.

 

Keberpihakan Rendra kepada rakyat kecil dapat dijelaskan melalui teori Intelektual Organik dari Antonio Gramsci. Gramsci berpendapat bahwa intelektual sejati tidak boleh hanya duduk di “menara gading” atau menjadi alat propaganda penguasa (intelektual tradisional). Intelektual organik harus menyatu dengan aspirasi kelas tertindas dan membantu mereka menyuarakan keresahannya.

Rendra menjalankan peran ini dengan sangat baik. Melalui gerakan mimbar bebas di kampus-kampus dan keterlibatannya dalam kelompok musik Kantata Takwa bersama Iwan Fals, ia meruntuhkan sekat antara seni tinggi dan rakyat jelata. Ia mengubah kegelisahan petani yang tanahnya digusur atau buruh yang upahnya rendah menjadi bait-bait puisi yang menggetarkan stadion. Ia memberikan bahasa bagi mereka yang dibungkam.

Konsistensi di Dua Zaman

Ketajaman Rendra tidak tumpul oleh waktu. Setelah Orde Baru tumbang, ia tetap kritis. Baginya, penindasan tidak selalu datang dari senjata, tetapi bisa muncul dari sistem ekonomi yang tidak adil atau birokrasi yang korup. Hal ini menunjukkan bahwa idealismenya bukan sekadar strategi politik untuk menjatuhkan satu rezim, melainkan prinsip dasar dalam memandang kemanusiaan.

 

Hingga wafatnya pada 6 Agustus 2009, Rendra tetap berdiri sebagai mercusuar bagi mereka yang percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Ia membuktikan bahwa meski tubuh bisa dipenjara, imajinasi dan keberanian tidak pernah bisa dibelenggu.

 

Bagi generasi masa kini yang hidup di tengah banjir informasi dan godaan budaya instan, sosok Rendra menawarkan cermin yang jernih. Saat ini, tantangan idealisme mungkin tidak lagi berupa ancaman penjara militer, melainkan godaan untuk sekadar menjadi pengikut tren demi popularitas di media sosial atau terjebak dalam pusaran konsumerisme yang mematikan daya kritis.

Refleksi penting yang bisa kita petik dari perjalanan hidup Rendra adalah

Keberaniannya dalam bersikap, di tengah riuh rendah dunia digital, sangat mudah untuk menjadi oportunis yang “main aman”. Rendra mengajarkan bahwa memiliki prinsip yang kuat adalah identitas sejati seorang manusia.

 

Seni yang Berpihak, kreativitas bukan hanya soal estetika atau estetika semu, melainkan tentang bagaimana karya kita memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar dan membela nilai-nilai kemanusiaan.

 

Kehidupan Rendra mengingatkan kita bahwa kekayaan materi yang didapat dari menggadaikan idealisme tidak akan pernah bisa membeli kehormatan sejarah. W.S. Rendra telah tiada, namun pertanyaannya tetap tinggal, di tengah ketidakadilan yang kini mungkin hadir lebih halus dalam algoritma dan kebijakan ekonomi, beranikah kita untuk tidak diam, menjadi “Burung Merak” berarti berani menunjukkan warna asli kita, meskipun dunia di sekitar kita sedang mencoba menyeragamkan semuanya dalam warna kelabu kepatuhan.

 

Penulis adalah kontributor aktivis.id

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA