Eksistensialisme, Materialitas, Immaterialitas, dan Kebenaran

4 minutes reading
Thursday, 29 May 2025 15:51 726 Aktivis

Bagi Dunia MATERIALITAS , adalah tindakan tindakan produktif yang PENUH INISIATIF itu lebih penting ketimbang menghabiskan energi untuk mempersoalkan Hakikat Materi yang tidak berujung dan berpangkal itu.

Materi sudah Menjadi struktur sosial ekonomi, Materi telah Konkret Menjadi Manusia

Kemudian Manusia memberi makna terhadap keberadaan dirinya dan adanya Materi yang lain.

Pemberitahuan makna terhadapnya dikarenakan adanya Hidup.

Sedangkan hidup itu wajib diselesaikan seumur hidup Oleh individu individu manusia itu dengan Dasar independentsinya

Saat ini di tahun 2025 ini di abad 21 ini yang terpenting adalah membersihkan Seluruh Kesadaran dari kekotoran batin yang terakumulasi selama Ratusan tahun

Kekotoran batin itu adalah Penodaan terhadap hidupnya sendiri yang berupa Kecemasan, ketakutan, keragu – raguan dan Ketidakpastian.

Kemudian segala penyakit Eksistensial tersebut menjadi bagian yang integral dengan hidupnya

Apakah itu…???

Dia adalah Kisah Hidup dan matinya manusia.

Sedangkan REALITAS hidup itu tidak terhubung dengan kisah-kisah Konyol tersebut, melainkan hanya terhubung dengan kehadiran setiap individu didalam sejarah hidupnya masing masing.

Keterlambatan didalam mengantisipasi DUNIA MATERIALITAS mengakibatkan terjadinya berbagai macam situasi sosial pelik rumit dan berbelit.

Hal sedemikian itu adalah penyebab utama lahirnya kemiskinan dan Kebodahan.

DUNIA MATERIALiTAS ada dikarenakan dia diciptakan oleh Entitas DILUAR Adi Kodrati.

Tidak ada nilai yang Hadir begitu Saja tanpa Campur tangan manusia.

Demikian juga Dunia MATERIALiTAS dia menjadi ada dikarenakan digerakkan oleh Manusia Konkret.

Dunia MATERIAL terus Membawa Serta seluruh mekanisme Sosial dan disitu segala bangunan budaya, SOSIAL, ekonomi dan Politik MENUJU Manifestasinya.

 

Inilah Dunia MATERIALiTAS itu

– Reaktor Nuklir

– Perserikatan bangsa-bangsa

– Vatikan

– Patung Liberty

– Monas

– dll yang dalam hal ini Dia ada dan Menjadi murni dari tindakan tindakan produktif yang PENUH INISIATIF dari Manusia Konkret.

 

Eksistensialisme, Materialitas, Immaterialitas, dan Kebenaran

Eksistensialisme adalah filsafat yang menempatkan keberadaan konkret manusia sebagai titik tolak seluruh pemahaman. Ia menolak segala bentuk esensialisme yang menganggap bahwa hakikat mendahului eksistensi. Dalam dunia eksistensial, kebenaran bukanlah cerminan dari suatu dunia ideal atau realitas transenden, melainkan hasil dari pergulatan manusia yang mewujud dalam dunia. Manusia tidak menemukan kebenaran sebagai objek tetap, melainkan menciptakannya dalam tindakan, komitmen, dan pilihan. Kebenaran bukanlah milik dunia yang sudah selesai, tetapi lahir dari dunia yang terus dihadapi manusia dengan kebebasan dan kecemasan.

Dalam eksistensialisme, materialitas bukanlah sekadar hal-hal fisik, benda-benda mati, atau dunia yang padat oleh fakta-fakta objektif. Materialitas adalah dunia yang dialami, dihuni, ditubuhkan. Tubuh bukan semata-mata objek biologis, melainkan juga medium melalui mana manusia hadir dan bertindak di dunia. Dunia material adalah latar yang tak bisa dilepaskan dari proyek eksistensial; bukan sebagai penghalang, tetapi sebagai kondisi dari kemungkinan. Dunia bukan latar netral, tetapi termuat dalam cara manusia menghadapinya—sebagai peluang, hambatan, godaan, atau beban. Di sinilah eksistensialisme menolak pemisahan mutlak antara subjek dan objek.

Sementara itu, gagasan tentang imaterialitas, dalam pengertian eksistensial, tidak merujuk pada substansi metafisik yang terpisah dari dunia, tetapi pada dimensi non-objektif dari eksistensi: hasrat, kecemasan, niat, nilai, proyek. Yang imaterial bukanlah yang tidak nyata, tetapi yang tidak dapat direduksi menjadi benda. Kesadaran adalah imaterial bukan karena ia berada di luar dunia, melainkan karena ia adalah keterbukaan terhadap dunia—”ke-ada-an-di-dunia” yang tak bisa dipakukan pada satu koordinat spasial. Kesadaran tidak memiliki isi, ia adalah nihil yang melampaui, yang mengada karena ingin menjadi sesuatu yang belum ada.

Kebenaran, dalam terang eksistensialisme, bukan soal korespondensi antara pikiran dan dunia, tetapi soal ketulusan dalam hidup. Seseorang yang hidup dalam itikad baik, yang mengakui kebebasannya dan bertindak seturut nilai yang ia wujudkan, lebih dekat pada kebenaran eksistensial daripada seseorang yang meniru nilai eksternal tanpa refleksi. Di sini, kebenaran tidak bisa dipisahkan dari subjek yang menjalaninya. Kebenaran bukan soal ide yang benar, tetapi soal menjadi benar. Dan menjadi benar tidak bisa dilepaskan dari keberanian untuk mengakui bahwa tidak ada fondasi tetap selain komitmen manusia sendiri.

Dengan demikian, eksistensialisme menolak dualisme antara material dan imaterial, justru karena ia melihat manusia sebagai satu kesatuan dalam dunia. Tidak ada jiwa yang berdiri di luar tubuh, dan tidak ada tubuh yang bermakna tanpa proyek kesadaran. Kebenaran tidak tinggal di langit idea maupun di kepastian empiris; ia tumbuh dalam kegetiran pilihan, dalam keterlibatan dengan dunia, dan dalam keberanian untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dipilih. Yang imaterial bukanlah yang di luar dunia, tetapi justru yang paling dalam dalam keterlemparan manusia ke dunia yang belum selesai.

RASIO HISTORIS menyatakan bahwa kehidupan sosial manusia ini adalah Gerak sejarah yang digerakkan Eksistensialis Eksistensialis yang menyadari Historisitasnya sebagai manusia KONKRET didalam membangun DUNIA MATERIALiTAS.

RASIO HISTORIS dengan Tegas menolak seluruh Hakikat Materi yang tidak Terhubung dengan keberadaan manusia KONKRET yang tidak bermakna.

Tulisan ini Berseri

 

Penulis

Djoko Sukmono

Badan Pendidikan dan Pelatihan 

Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis 

( NASMAR )

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA