GMNI Pamekasan Menuntut Kejaksaan Negeri Agar Profesional dan Transparan Dalam Menangani Kasus Korupsi

2 minutes reading
Tuesday, 9 Dec 2025 17:23 222 Aktivis

Pamekasan – 09 Desember 2025 Ratusan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Pamekasan menggelar aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia di depan kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Pamekasan, Selasa (09/12). Aksi tersebut berlangsung tegas namun tertib, diwarnai orasi lantang, pembentangan poster, serta pengibaran bendera organisasi.

Dalam aksinya, massa GMNI menyoroti maraknya dugaan praktik korupsi yang terjadi di berbagai sektor di Kabupaten Pamekasan, mulai dari dana hibah, dana desa, hingga proyek fiktif yang beberapa tahun terakhir menjadi perhatian publik.

Ketua DPC GMNI Pamekasan menyampaikan bahwa korupsi telah menjadi penyakit kronis yang merusak tatanan sosial, ekonomi, dan kepercayaan publik terhadap lembaga negara.

“Korupsi sudah bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, tetapi telah menjadi budaya yang melekat. Hari ini kami datang untuk menyuarakan bahwa rakyat menuntut keadilan dan transparansi, bukan lagi janji-janji penegakan hukum,” tegas salah satu orator aksi dalam tuntutannya.

Massa aksi mendapatkan pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Perwakilan Kejari Pamekasan sempat menemui demonstran dan menerima dokumen tuntutan resmi dari GMNI.

Tiga Tuntutan Utama GMNI Pamekasan

Dalam press release resminya, DPC GMNI Pamekasan membawa tiga poin tuntutan utama:
1. Mendorong Kejari Pamekasan untuk berkomitmen memberantas praktik korupsi yang pernah maupun berpotensi terjadi di internal maupun eksternal, serta memastikan penindakan hukum berjalan tanpa tebang pilih.
2. Mendesak Kejari agar bekerja profesional dan transparan dalam menangani kasus-kasus korupsi di Pamekasan, termasuk kasus mobil sigap, proyek fiktif, penyelewengan dana hibah, hingga penggunaan dana hibah Rp4 miliar yang sebelumnya disorot KPK.
3. Menuntut pengawasan ketat terhadap program nasional maupun daerah yang mengelola dana besar, seperti Koperasi Merah Putih, agar tidak menjadi celah terjadinya korupsi.

Korupsi Dinilai Mengakar dan Sistemik

GMNI menilai bahwa sejarah panjang korupsi di Indonesia mulai dari masa kerajaan, kolonialisme, hingga era modern telah menjadikannya sebagai tradisi buruk yang sulit di hapuskan. Termasuk di Pamekasan, berbagai kasus yang menyeret tokoh publik dianggap sebagai bukti bahwa pengawasan dan penindakan masih lemah.

Aksi ini merupakan bagian dari gerakan nasional GMNI dalam memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, sekaligus bentuk kontrol sosial mahasiswa sebagai agent of change dan moral force.

Aksi berakhir dengan damai setelah penyampaian sikap dan serah terima dokumen aspirasi kepada pihak Kejaksaan.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA