Dalam pemahaman yang telah masif serta kuat dikalangan rakyat Indonesia, kekayaan adalah penilaian tertinggi terhadap kemuliaan, penghargaan, dihormati, disegani, bahkan materialisme merupakan alat pergaulan dan pengikat hubungan antar manusia.
Masyarakat menilai harta merupakan bagian penting dari kehidupan sebab disana ada pembiayaan hidup bagi kebutuhan sehari hari. Untuk memiliki hal diatas tak lepas dari usaha yang gigih, tekun, sabar, giat. Terlepas dari bagaimana mendapatkannya,tujuan juga niat menjadi urusan pribadi masing masing.
Keberhasilan dalam meraih bagian dari nikmat dunia menentukan terpenuhinya semua kebutuhan hidup serta kehidupannya. Tercapai lah kebahagiaan ukuran dunia dan bisa melakukan apapun yang diinginkan sesuai dengan keberadaan harta dimiliki.
Tetapi wajib pula kita untuk memahami pengelolaan dari apa yang telah kita dapatkan, yaitu; ilmu pengetahuan agar terjaga terhadap pengaturan apa yang telah didapat. Di satu sisi lainnya keberadaan kita telah terbiasa dengan dilingkari dan dikepung serta di nina bobokan dengan yang bernama budaya sejak kecil hingga dewasa. Baik melalui interaksi keluarga, lingkungan hingga masyarakat. Kentalnya lebih dominan lewat rasa walaupun tidak semua daerah menggunakannya.
Tidak bisa di sepelekan juga faktor pemerintah selama 32 tahun berkuasa yang menggunakan, menyebarkan rasa sebagai pengolahan dan kontrol. Alat paling ampuh adalah sistem pendidikan dengan cara pengajaran doktrinal, monolog, di hapusnya pendekatan literasi bahkan menghapus segala hal yang dapat berkembangnya berpikir, kekritisan anak didik Diubah jadi pekerja dipabrik pabrik, industrialisasi.
Selain itu cita cita diarahkan pada ABRI, dokter, insinyur selalu dibumbui oleh para guru yang sangat menghormati,profesi tersebut untuk menguatkan doktrin agar tertanam dikepala di setiap murid. Dikuatkan lagi dengan berbagai pengaruh diantaranya jika cita cita tersebut terwujud maka akan dihargai, didengar omongannya apalagi anda punya jabatan. Merajalela lah kekayaan yang dikumpulkan lewat KKN , menjadi penjilat, menjelek jelekkan orang lain dibelakangnya, sok tahu, merasa unggul, karena memiliki uang, menyukai formalitas, dan senang dipuji.
Demikian kuat pengaruh budaya rasa hingga saat ini tetapi kekuatan berpikir harus tunduk dan taat pada orang bermodal.
No Comments