Oleh : Sapto Raharjanto
Ahmad Wahib bukanlah seorang ulama tradisional dengan ribuan pengikut, bukan pula politikus yang haus kekuasaan. Ia adalah seorang pemuda dengan rasa ingin tahu yang “keterlaluan.” Namanya abadi bukan karena jabatan, melainkan karena catatan harian yang jujur, tajam, dan penuh kegelisahan. Melalui bukunya yang fenomenal, Pergolakan Pemikiran Islam, Wahib mewariskan sebuah metode berpikir yang kita kenal sebagai dialektika pemikiran.
Bagi Wahib, keimanan bukan berarti berhenti bertanya, justru iman yang hidup adalah iman yang terus berdialog dengan kenyataan. Ia percaya bahwa sebuah gerakan pembaharuan harus selalu dalam keadaan gelisah. Wahib tidak puas dengan jawaban-jawaban instan atau dogma yang sudah dianggap selesai. Ia melihat bahwa banyak umat Islam terjebak pada formalisme menjalankan ritual tapi kehilangan esensi. Baginya, kebenaran yang sudah ditemukan hari ini harus terus diuji agar kita bisa menemukan kebenaran yang “lebih benar.”
Inti dari pemikiran Ahmad Wahib adalah dialektika atau dialog antara ajaran agama (Teks) dengan realitas zaman (Konteks). Wahib menolak jika Islam hanya dijadikan artefak masa lalu yang kaku.
Islam sebagai Proses, Wahib memandang Islam bukan sebagai benda mati yang sudah jadi, melainkan sebuah proses pencarian yang terus-menerus. Melawan Pembajakan Pemikiran, Wahib sangat khawatir jika Islam “dibajak” oleh kelompok yang merasa paling benar, yang kemudian menutup pintu ijtihad (berpikir kreatif). Menurutnya, klaim kebenaran tunggal justru membuat Islam mundur dan tidak relevan dengan kemajuan zaman.
Salah satu ciri khas dialektika Wahib adalah keberaniannya untuk “berdebat” bahkan dengan konsep-konsep ketuhanan dalam pikirannya sendiri. Ia tidak ragu mempertanyakan hal-hal yang dianggap tabu. “Aku bukan sedang mencari agama baru, aku sedang mencari Islam yang sejati,” seolah menjadi nafas dalam setiap catatan harian yang ia tulis.
Wahib membedakan antara Islam sebagai wahyu yang suci dan pemikiran Islam yang merupakan hasil ijtihad manusia. Karena pemikiran manusia tidak suci, maka ia boleh dikritik, diubah, dan disesuaikan agar selalu membawa rahmat bagi alam semesta. Wahib adalah seorang humanis yang religius. Dialektikanya selalu berujung pada cinta terhadap bangsa dan kemanusiaan. Ia melihat bahwa perpecahan sering terjadi karena orang terlalu sibuk membela simbol agama, namun lupa membela manusia yang menjadi tujuan dari agama itu sendiri.
Bagi Wahib, seorang pembaharu adalah mereka yang mencintai bangsanya lebih dari dirinya sendiri, kegelisahannya bukan karena ia benci pada agamanya, tapi karena ia sangat mencintai Islam dan ingin melihat umatnya maju, intelek, dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan.
Kehidupan Wahib terhenti secara tragis di usia 30 tahun pada sebuah kecelakaan di Senen Raya, 31 Maret 1973 dunia jurnalistik dan intelektual Indonesia kehilangan sosok calon jurnalis berbakat dari majalah Tempo. Namun, kematian fisik tidak menghentikan dialektika pemikirannya. Catatan-catatannya yang diterbitkan secara anumerta justru menjadi “bom” intelektual yang menyadarkan generasi setelahnya bahwa “berpikir kritis adalah bagian dari ibadah”. Kebenaran sejati hanya milik Tuhan, sementara manusia bertugas terus mendekatinya.
Islam harus menjadi solusi atas persoalan zaman, bukan sekadar pelarian dari kenyataan.
Membaca Ahmad Wahib bukan berarti kita harus setuju dengan semua pendapatnya, kita perlu meniru semangat dialektikanya, keberanian untuk jujur pada diri sendiri, tekad untuk terus belajar, dan keinginan untuk tidak pernah berhenti mencari yang lebih baik.
Di era informasi saat ini, di mana banyak orang mudah menghakimi tanpa berpikir mendalam, sosok Ahmad Wahib adalah pengingat bahwa menjadi muslim yang baik adalah menjadi muslim yang senantiasa berpikir, menggali, dan bertanya.
Penulis adalah pengamat sosial dan politik sekaligus peneliti Aktivis Institute
No Comments