Oleh : Tiara Primavika Bestari
Stadion Utama Gelora Bung Karno 23 Juni 1990, menjadi saksi bisu dari sebuah peristiwa yang lebih dari sekadar konser musik. Malam itu, ratusan ribu pasang mata menyaksikan lahirnya sebuah fenomena kebudayaan bernama Kantata Takwa. Di bawah sorot lampu laser yang megah dan dekorasi kepala rajawali raksasa, sebuah pesan perlawanan dan spiritualitas diledakkan melalui harmoni yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah musik Indonesia.
Kantata Takwa bukanlah sekadar grup band. Ia adalah sebuah “padepokan seni” atau kolektif kreatif yang menyatukan raksasa-raksasa dari berbagai disiplin ilmu. Ada Setiawan Djody sebagai pengusaha sekaligus penyandang dana yang memiliki visi seni luas, W.S. Rendra sang penyair berjuluk Si Burung Merak, Sawung Jabo yang eksplosif, Yockie Suryoprayogo sang komposer jenius, hingga Iwan Fals yang merupakan representasi suara rakyat kecil. Kolaborasi ini menciptakan sebuah kekuatan estetika yang sangat tajam untuk ukuran zaman Orde Baru.
Pada dekade 90-an, ruang gerak politik sangatlah terbatas. Kritik langsung terhadap pemerintah seringkali berujung pada pembungkaman. Di sinilah letak kecerdikan Kantata Takwa, mereka menggunakan seni musik dan teater sebagai kendaraan untuk menyuarakan ketidakpuasan sosial tanpa harus terjebak dalam retorika politik praktis yang kering.
Lagu-lagu seperti “Kesaksian”, “Paman Doblang”, dan “Bongkar” (yang juga dipopulerkan bersama grup Swami) menjadi himne bagi mereka yang merasa terpinggirkan. Lirik yang ditulis oleh Rendra bukan sekadar susunan kata indah, melainkan kritik tajam terhadap korupsi, kesenjangan ekonomi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Kalimat legendaris Rendra, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,” yang diteriakkan di hadapan massa, menjadi pengingat bahwa seni memiliki tanggung jawab moral terhadap realitas sosial.
Kekuatan utama Kantata Takwa terletak pada kemampuan mereka menyatukan elemen spiritual (Takwa) dengan kesadaran sosial (Kantata). Mereka percaya bahwa kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari sejauh mana mereka berani membela keadilan dan peduli terhadap penderitaan sesama manusia. Inilah yang dimaksud dengan seni sebagai suara hati nurani rakyat.
Secara musikal, Kantata Takwa menawarkan kualitas produksi yang melampaui zamannya. Yockie Suryoprayogo berhasil meramu aransemen rock yang megah dengan sentuhan orkestrasi dan perkusi tradisional yang magis dari Sawung Jabo. Hasilnya adalah sebuah opera rock yang mampu menghipnotis pendengarnya.
Kehadiran Setiawan Djody sebagai penyokong finansial juga sangat krusial. Di tengah dominasi musik pop cengeng yang saat itu dikritik oleh Menteri Penerangan, Djody memberikan ruang bagi eksplorasi seni yang idealis namun memiliki skala produksi kelas dunia. Hal ini membuktikan bahwa modal besar, jika berada di tangan yang tepat, bisa menjadi alat untuk mendukung gerakan kebudayaan yang bermartabat, bukan sekadar komoditas komersial semata.
Mengapa sejarah Kantata Takwa penting untuk dipelajari oleh generasi muda saat ini, di masa era digital di mana informasi melimpah namun seringkali dangkal, Kantata Takwa mengajarkan tentang pentingnya kedalaman berpikir dan integritas dalam berkarya.
Pertama, Kantata Takwa menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas disiplin. Perpaduan antara seniman, intelektual, dan pengusaha membuktikan bahwa perubahan besar hanya bisa terjadi jika berbagai elemen masyarakat bersatu untuk tujuan yang lebih besar dari sekadar kepentingan pribadi. Anak muda saat ini perlu belajar untuk meruntuhkan ego sektoral demi menciptakan karya yang berdampak luas.
Kedua, mereka memberikan teladan tentang keberanian intelektual. Di tengah risiko keamanan yang tinggi saat itu, para personel Kantata Takwa tidak memilih untuk diam. Mereka menggunakan talenta mereka untuk menjadi “penyambung lidah” bagi mereka yang tidak bisa bersuara. Bagi generasi muda, ini adalah pengingat bahwa kreativitas harus memiliki substansi dan empati. Karya seni bukan hanya soal estetika atau jumlah likes di media sosial, tetapi soal bagaimana karya tersebut mampu menyentuh sisi kemanusiaan dan memicu perubahan positif.
Ketiga, tentang ketekunan dalam visi. Film dokumenter Kantata Takwa membutuhkan belasan tahun untuk bisa tayang secara utuh karena kendala dana dan teknis. Namun, semangat yang terkandung di dalamnya tidak pernah padam. Hal ini mengajarkan bahwa sebuah gerakan kebudayaan yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk sampai ke masyarakat, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Konser Kantata Takwa tahun 1990 adalah puncak dari keberanian sebuah generasi dalam menyuarakan kebenaran melalui estetika. Mereka berhasil membuktikan bahwa seni bisa menjadi instrumen perubahan yang sangat kuat. Meskipun rezim telah berganti dan beberapa personel utama telah tiada, esensi dari Kantata Takwa yaitu kesadaran, keberanian, dan perjuangan tetap abadi.
Bagi generasi saat ini, warisan Kantata Takwa adalah sebuah tantangan. Di tengah dunia yang semakin kompleks, mampukah kita tetap menjaga hati nurani sebagai kompas dalam setiap karya yang kita ciptakan, sebagaimana yang digelorakan dalam lagu mereka “Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”
Kantata Takwa telah menanam benihnya di tahun 1990. Tugas generasi gen z saat ini adalah merawat benih tersebut agar suara hati nurani tetap bergema di tengah hiruk-pikuk zaman modern.
Penulis adalah Kontributor Aktivis.id
No Comments