Oleh : Sapto Raharjanto
Pendidikan adalah urat nadi setiap pergerakan politik yang ingin bertahan lama. Bagi Partai Komunis Indonesia (PKI), terutama pada masa keemasan di bawah kepemimpinan D.N. Aidit, partai bukan sekadar mesin suara, melainkan sebuah sekolah raksasa. PKI menyadari bahwa untuk menggerakkan massa akar rumput yang luas, mereka tidak bisa hanya mengandalkan retorika di podium. Mereka membutuhkan kader yang memiliki kedisiplinan baja dan pemahaman ideologi yang seragam. Di sinilah peran vital “Sekolah Politik” atau kursus-kursus partai menjadi tulang punggung organisasi.
Pasca-peristiwa Madiun 1948, PKI melakukan rekonstruksi besar-besaran. Aidit dan tokoh muda lainnya mengubah wajah partai menjadi partai massa (mass party) yang progresif. Namun, kuantitas tanpa kualitas dianggap berbahaya. Oleh karena itu, sejak pertengahan 1950-an, pendidikan formal partai mulai digalakkan secara sistematis.
Puncaknya terjadi dengan pendirian Yayasan Universitas Rakyat (UNRA) pada September 1958. Bagi Aidit, pendidikan haruslah membebaskan dan menggugah kesadaran politik. Sekolah-sekolah ini tidak hanya berdiri di tingkat pusat, tetapi menjalar hingga ke pelosok desa melalui Comite Seksi dan Comite Sub-Seksi. Tujuannya jelas, untuk menciptakan “manusia komunis baru” yang melek aksara sekaligus melek politik.
Materi yang diajarkan dalam sekolah politik PKI dirancang dengan sangat rigid dan terstruktur. Kurikulum utama berfokus pada apa yang mereka sebut sebagai “Kepastian Sejarah”. Para kader didoktrin dengan pemahaman Marxisme bahwa masyarakat bergerak secara dialektis melalui tahapan-tahapan tertentu.
Mata pelajaran pokok yang diajarkan di dalam sekolah ini meliputi Sejarah Perkembangan Masyarakat, Sejarah Indonesia, dan Ekonomi-Sosial Indonesia. Dalam kelas-kelas ini, pengajar akan menguraikan evolusi manusia dari masyarakat primitif yang komunal, beralih ke zaman perbudakan, hingga sistem feodalisme yang dianggap sebagai akar penderitaan kaum tani Indonesia.
Narasi yang dibangun selalu menempatkan rakyat pekerja sebagai aktor utama sejarah. Kader diajarkan bahwa kemiskinan bukanlah takdir atau kutukan, melainkan akibat dari penguasaan alat produksi oleh segelintir orang. Dengan kurikulum yang kaku ini, partai memastikan seluruh kadernya memiliki satu bahasa dan satu garis perjuangan yang tegak lurus dengan instruksi pusat.
Metodologi pengajaran di sekolah politik PKI ini menggabungkan antara indoktrinasi teori dan praktik kedisiplinan yang sangat ketat. Kelas biasanya berlangsung selama dua hingga tiga jam setiap minggu. Menariknya, PKI sangat memperhatikan psikologi massa. Para pengajar dilarang memberikan penjelasan yang terlalu luas atau kering agar materi tetap bisa dicerna oleh kader yang mayoritas berasal dari kalangan buruh dan tani.
Kedisiplinan adalah harga mati. Jika seorang siswa tidak hadir tiga kali berturut-turut tanpa alasan, Dewan Siswa akan mendatangi rumahnya secara langsung. Ini bukan sekadar kontrol administratif, melainkan bentuk pengawasan ideologis. Lingkungan belajar pun diatur sedemikian rupa, tempat kursus harus bersih dan jauh dari jangkauan lawan politik untuk menjaga kerahasiaan dan kekhusyukan belajar.
Selain itu, aspek visual seperti papan tulis, peta, dan alat peraga lainnya menjadi standar wajib. PKI ingin menunjukkan bahwa meski mereka bergerak di akar rumput, mereka adalah organisasi yang modern, tertib, dan ilmiah.
Para pengajar di sekolah politik ini bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah anggota Dewan Pengurus atau kader senior yang telah lulus verifikasi ideologi oleh Bagian Agitasi dan Propaganda (Agitprop). Tokoh-tokoh seperti D.N. Aidit sendiri sering memberikan ceramah kunci untuk menjaga semangat para kader. Selain itu, organisasi sayap seperti Gerwani juga aktif dalam pemberantasan buta huruf, yang menjadi pintu masuk bagi pendidikan politik yang lebih dalam.
Para tutor ini dituntut untuk menjadi teladan dalam berpakaian, ketepatan waktu, dan penguasaan materi. Mereka adalah ujung tombak yang menerjemahkan teori-teori Marxis yang rumit menjadi bahasa yang membumi bagi masyarakat desa.
Sekolah partai PKI merupakan fenomena unik dalam sejarah politik Indonesia. Ia bukan sekadar tempat belajar, melainkan laboratorium pembentukan loyalitas. Melalui kurikulum yang rigid dan metodologi yang disiplin, PKI berhasil menciptakan militansi kader yang luar biasa pada masanya. Pendidikan inilah yang sempat membuat mereka menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia di luar blok Uni Soviet dan Tiongkok, sebelum akhirnya seluruh struktur ini runtuh dalam pergolakan sejarah tahun 1965.
Penulis adalah peneliti Aktivis Institute
No Comments