Oleh : Tiara Primavika
Di balik gemerlap lampu panggung rock Indonesia era 80-an, terdapat sebuah nama yang tidak hanya menjual distorsi, tetapi juga prinsip. Makara, band yang lahir dari rahim intelektualitas Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1980, muncul sebagai anomali di tengah arus utama musik populer saat itu. Di saat musisi lain sibuk meramu nada cinta yang mendayu atau sekadar menjadi replika band-band Barat, Makara memilih jalur yang lebih terjal, menjadi cermin retak bagi realitas sosial Indonesia.
Cikal bakal perlawanan ini sebenarnya sudah berdenyut sejak 1978, di bawah bayang-bayang represi Orde Baru, Andy Julias dan Januar Irawan melahirkan lagu “Sangkakala”. Lagu ini bukan sekadar komposisi nada, melainkan sebuah seruan untuk membangunkan semangat muda yang terbelenggu tirani. Sejak awal, Makara telah mematri identitas mereka sebagai band rebel. Mereka memperkenalkan konsep “Art-Metal”, sebuah perpaduan jenius yang menggabungkan kecerdasan komposisi art rock dengan energi perkasa heavy metal.
Salah satu pencapaian terbesar Makara dalam sejarah musik Indonesia adalah keberanian mereka mengangkat isu-isu yang dianggap tabu atau terlalu “berat” untuk telinga awam. Magnum opus mereka, “Laron-Laron”, yang meledak pada tahun 1986, adalah bukti nyata kekuatan lirik mereka. Lagu ini bukan sekadar hit radio, melainkan sebuah kritik tajam terhadap fenomena urbanisasi saat itu.
Melalui metafora laron yang menyerbu cahaya hanya untuk menemui ajalnya, Makara memotret fenomena urbanisasi yang membabi buta. Mereka menyuarakan nasib orang-orang yang datang ke Jakarta tanpa keahlian, terjebak dalam janji palsu metropolitan, dan berakhir menjadi kaum urban yang gagal. Liriknya lugas, lantang, dan tidak berbasa-basi. Di saat pengaruh lirik puitis ala Sansekerta sedang tren, Makara justru memilih kata-kata yang membumi namun menyengat nurani.
Keunikan Makara juga terpancar dari formasi dua vokalis legendarisnya, Harry Moekti dan Kadri Mohamad. Harry dengan karakter rock yang gahar dan Kadri dengan latar belakang jazz yang elegan menciptakan dinamika panggung yang tak tertandingi. Didukung oleh permainan gitar Agus Anhar yang kental dengan pengaruh Eddie Van Halen serta sentuhan kibord Adi Adrian (yang kelak membentuk KLa Project), Makara menjadi entitas musik yang sangat diperhitungkan.
Meskipun sangat dipengaruhi oleh band art-rock dunia seperti Genesis dan Saga, Makara tidak pernah kehilangan jati diri keindonesiaannya. Dalam album pertama mereka, mereka secara berani memasukkan idiom tradisional ke dalam musik rock modern. Lagu “Di Dunia Angan” menyisipkan sentuhan pentatonis Bali, sementara lagu “Fabel” mengadopsi nuansa musik Minang. Hal ini menunjukkan bahwa kritik sosial dan kecintaan terhadap akar budaya dapat berjalan beriringan tanpa harus terdengar klise.
Setelah vakum cukup lama, dedikasi mereka terhadap seni tidak padam. Pada tahun 2008, mereka kembali dengan album Maureen, membuktikan bahwa semangat untuk berkarya dan bersuara tidak luntur oleh usia. Makara tetap konsisten pada jalur musik yang berkualitas dengan lirik yang tetap memiliki kedalaman makna.
Kisah perjalanan Makara memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda kreatif saat ini. Di era digital di mana tren berubah dalam hitungan detik, sangat mudah bagi seorang seniman untuk terjebak dalam keinginan mencari popularitas instan dan mengikuti arus pasar yang dangkal.
Namun, belajarlah dari Makara bahwa seni yang sejati adalah suara hati nurani. Jangan takut untuk menjadi berbeda. Jangan ragu untuk menyuarakan ketidakadilan melalui karya, baik itu lewat musik, visual, maupun tulisan. Seni bukan sekadar hiburan atau pelarian dari realitas, melainkan alat untuk memanusiakan manusia dan mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai kebenaran yang mungkin terlupakan.
Jadilah generasi yang berani menciptakan karya dengan isi, bukan sekadar kemasan. Gunakan bakatmu untuk menjadi penyambung lidah bagi mereka yang tak terdengar. Ketika sebuah karya lahir dari kepedulian sosial dan kejujuran nurani, ia tidak akan lekang oleh waktu, ia akan tetap bergema, seperti lagu “Sangkakala” yang masih terus menyulut semangat hingga hari ini.
Penulis adalah kontributor aktivis.id
No Comments