*Oleh : Sapto Raharjanto
Di koridor-koridor sunyi Istana Het Loo, sejarah mencatat sebuah senja yang pahit bagi Monarki Belanda. Ratu Wilhelmina, sosok yang selama hampir lima dekade menjadi simbol keteguhan Belanda, harus menghadapi kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya, hilangnya “Permata Mahkota” Hindia Belanda. Bagi Wilhelmina, Indonesia bukan sekadar koloni, ia adalah penopang ekonomi dan harga diri sebuah kekaisaran yang hancur lebur pasca-Perang Dunia II. Namun, di seberang samudera, seorang orator ulung bernama Sukarno telah menyalakan api yang tidak bisa dipadamkan oleh peluru maupun diplomasi meja bundar.
Tahun 1945 adalah tahun yang penuh kontradiksi bagi Wilhelmina. Di satu sisi, ia merayakan pembebasan negerinya dari cengkeraman Nazi. Di sisi lain, berita dari Jakarta pada 17 Agustus 1945 menghujam jantungnya. Bung Karno, dengan suara yang bergetar namun tegas, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Bagi Wilhelmina yang dikenal berkemauan keras dan taktis, tindakan Sukarno adalah pembangkangan terhadap tatanan dunia yang ia pahami. Belanda saat itu sedang sekarat secara ekonomi, infrastruktur rusak, kelangkaan bahan bakar menghantui rakyatnya, dan penjatahan makanan menjadi keseharian. Dalam pandangan Wilhelmina, merebut kembali Indonesia adalah satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan ekonomi Belanda yang terpuruk.
Di mata Wilhelmina, Sukarno mungkin awalnya hanya dianggap sebagai agitator. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kekuatan zaman. Sukarno bukan sekadar pemimpin politik, ia adalah personifikasi dari kehendak rakyat yang sudah muak dengan penjajahan selama tiga setengah abad.
Ketika Wilhelmina memerintahkan Agresi Militer untuk menduduki kembali Indonesia secara paksa, ia sebenarnya sedang berpacu dengan waktu dan kesehatan mentalnya sendiri. Bung Karno merespons dengan diplomasi internasional yang jenius. Di saat militer Belanda merangsek, Sukarno justru berhasil menarik simpati dunia, membuat posisi Belanda terpojok di mata PBB dan Amerika Serikat.
Dalam upaya terakhirnya mempertahankan pengaruh, Wilhelmina sempat menawarkan bentuk persemakmuran atau federasi. Ia ingin Indonesia tetap berada di bawah naungan “Payung Oranye,” sebuah kemerdekaan semu yang masih terikat pada Kerajaan Belanda.
Namun, Bung Karno dengan visi “Merdeka 100%” menolak kompromi setengah hati tersebut. Sukarno memahami bahwa rakyat Indonesia tidak menginginkan reformasi kolonial, melainkan transformasi total. Ketegasan Sukarno inilah yang membuat strategi taktis Wilhelmina menemui jalan buntu. Tekanan internasional kian menguat, dan biaya perang yang membengkak justru kian mencekik ekonomi Belanda yang sudah sekarat.
Beban mental akibat kegagalan mempertahankan Indonesia berdampak sangat buruk pada kesehatan Wilhelmina. Ketidakrelaannya melihat Indonesia lepas berubah menjadi frustrasi yang mendalam. Sejarah mencatat bahwa ia adalah satu-satunya penguasa di dunia saat itu yang begitu keras kepala dan sulit menerima kenyataan bahwa era kolonialisme telah berakhir.
Kondisi fisik yang terus menurun akibat stres politik dan beban pasca-perang akhirnya memaksa Wilhelmina mengambil keputusan besar. Pada tahun 1948, setahun sebelum Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Republik Indonesia dalam Pengakuan Kedaulatan tahun 1949, ia memilih turun takhta. Ia menyerahkan tongkat estafet kekuasaan kepada putrinya, Juliana, dalam suasana hati yang penuh duka atas hilangnya wilayah timur yang ia cintai.
Wilhelmina menghabiskan sisa hidupnya dengan menyepi di Istana Het Loo. Hingga wafatnya pada tahun 1962, luka akibat lepasnya Indonesia konon tidak pernah benar-benar sembuh. Sementara itu, di Jakarta, Bung Karno telah berdiri tegak sebagai pemimpin bangsa besar yang berdaulat, membuktikan bahwa keberanian seorang orator mampu meruntuhkan ambisi seorang ratu dari kekaisaran lama.
Kisah ini bukan sekadar tentang transisi kekuasaan, melainkan tentang benturan dua dunia, dunia lama yang bersikeras pada kolonialisme, dan dunia baru yang dipimpin oleh Sukarno dengan semangat progressive revolusioner dan kemerdekaan yang mutlak. Wilhelmina turun takhta dengan kegetiran, sementara Sukarno naik ke panggung dunia dengan kebanggaan.
*Penulis Adalah Ketua Departemen Penerbitan Centre of Local Economies And Politics Studies (CoLEPS) Jember
No Comments