Upaya Kolonial Belanda Melanggengkan Kemiskinan dan Pembodohan di Tanah Air

2 minutes reading
Tuesday, 25 Feb 2025 16:18 702 Aktivis

Di Abad ke-17 tatkala Perusahaan Hindia Timur atau VOC mulai menguasai sebagian tanah air dari tangan Raja-raja di Nusantara, mereka mulai menggunakan monopoli politik untuk menguasai perdagangan dengan dalih telah membantu raja-raja di Nusantara dalam peperangan.

Sejak tahun 1667, VOC telah memasukkan Opium atau Candu sebagai salah satu komoditi perdagangan. Mereka menyakini bahwa dengan Candu tersebut maka VOC dapat menguasai dan memperlemah rakyat khususnya di tanah Jawa, karena di Jawa mereka selalu mendapat perlawanan.

Pada awal perdagangannya, candu diimport dari Benggala India dalam jumlah kecil. Tahun 1678 penjualan candu meningkat menjadi 29,23 metrik ton.

Hal ini sangat menguntungkan bagi Kolonial, sementara rakyat yang terpikat opium menjadi ketagihan dan terus menerus kecanduan untuk terus mengkonsumsinya.

Dengan demikian pihak VOC akan menuai keuntungan yang besar. Opium atau candu menjadi cara dan alat yang ampuh untuk mengendalikan rakyat di Nusantara, sehingga kekuasaannya semakin kuat dan langgeng di Nusantara.

Pada jaman Gubernur Jendral Baron Van Imhoff tahun 1745, kebutuhan Candu di pulau Jawa sangat besar. Hingga Pemerintah Kolonial Belanda memasok 56 Ton Candu khusus untuk Pulau Jawa.

Pada Awal tahun 1800 perdagangan Candu sudah tersebar di seluruh pesisir pantura Pulau Jawa, mulai dari Batavia hingga Tuban, Gresik dan Surabaya hingga Madura.

Di pedalaman, distribusi Opium telah masuk ke pedesaan-pedesaan di wilayah Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Tempat-tempat penjualan Candu didirikan diwilayah-wilayah yang banyak ditemukan aktifitas masyarakat seperti didekat pasar, perkebunan dan Pelabuhan.

Tentu ini sangat berdampak buruk bagi Masyarakat Nusantara, tidak hanya penidasan yang dilakukan oleh Kolonial Belanda saja yang dirasakan.

Masyarakat menjadi miskin dan malas. Pada Awal Abad ke-19 bagi masyarakat Pribumi, mengkonsumsi Opium atau candu adalah hal yang lumrah, karena semua orang mengkonsumsinya. Inilah yang mendasari RA. Kartini memulai perjuangannya.

Perjuangan RA Kartini justru dimulai dengan mempermasalahkan Politik Candu Kolonial Belanda ini, yang saat itu Pemerintah Kolonial Belanda memproduksi Opium atau Candu ini secara besar-besaran (berdirinya Pabrik Opium di Salemba).

Hal ini berarti memproduksi candu sebesar-besarnya untuk dikonsumsi sebanyak-banyaknya masyarakat pribumi, dengan tujuan selain profit, adalah agar mereka terbelenggu oleh Candu serta mudah terjajah dan tertindas, tidak lagi produktif sehingga miskin dan bodoh.

Semoga kita senantiasa dapat belajar dari sejarah, khususnya para Generasi Muda agar jangan pernah terjebak oleh upaya-upaya Kolonialis atau Imperialis untuk menghancurkan bangsa ini lewat Generasi Mudanya

 

Penulis
R. Hari Jatmiko, SSi. CSCM.
Ketua Kebudayaan Nasional
DPP Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA