Kemanakah Marhaenis Pada Saat Ramadhan 2025..??, Bangunlah Dari Tidur Panjangmu Kawan

4 minutes reading
Sunday, 2 Mar 2025 16:48 596 Aktivis

Perjalanan manusia dalam sejarah kehidupan selalu dihiasi dengan momentum yang disesuaikan dengan hari atau bulan besar yang diyakini oleh banyak orang.

Pada kali ini kami sengaja merangkum beberapa peristiwa yang terjadi dalam bulan Ramadhan terutama yang berkaitan dengan momentum kebangsaan.

Ramadhan bukan hanya menjadi momen ibadah dan perenungan bagi umat Islam, tetapi juga menjadi saksi perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Sejarah mencatat pada bulan suci ini sering kali menjadi latar berbagai peristiwa penting yang menentukan nasib negeri.

Salah satu peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Ramadhan adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Saat itu, suasana Jakarta tengah memanas setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II.

Golongan pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu kepastian dari pihak Jepang.

Desakan golongan muda tidak berakhir dengan Cuma Cuma karena pada pagi hari Soekarno membacakan teks proklamasi di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Tentunya Peristiwa ini menandai babak baru bagi Indonesia sebagai negara merdeka dan mengatur semua sistem pemerintahan sendiri.

Tidak berhenti sampai disitu, semangat Ramadhan juga terasa dalam pertempuran besar yang terjadi setelah kemerdekaan.

Diantaranya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang terjadi setelah bulan Ramadhan dan menjadi perhatian dunia.

Pertempuran tersebut tidak berlangsung secara tiba tiba namun persiapan dan semangat perjuangan para pahlawan telah dipupuk sejak bulan suci itu.

Para pejuang menjadikan bulan Ramadhan sebagai waktu untuk memperkuat mental, spiritual, dan fisik dalam menghadapi pasukan Sekutu yang datang untuk merebut kembali Indonesia.

Sejarah Marhaenisme

Ajaran Bung Karno yang kita kenal dengan istilah Marhaenisme adalah suatu asas perjuangan untuk melawan segala bentuk penindasan Kolonialisme, Kapitalisme, dan Imperialisme.

Jika kita dalami secara seksama, Marhaenisme merupakan Suatu ajaran yang terkontaminasi dengan ajaran-ajaran Marxisme dan kondisi Indonesia pada waktu.

Hal itu diperkuat oleh beberapa pernyataan yang disampaikan oleh Bung Karno “kalau ingin memahami Marhaenisme, Anda harus mengetahui ajaran-ajaran Karl Max dan kondisi Indonesia.”

Banyak referensi yang menyebutkan bahwa istilah Marhaenisme diilhami oleh Bung Karno ketika sedang jalan-jalan di pinggiran kota Bandung, pada saat itu Bung Karno masih menjadi mahasiswa di Technische Hoogeschool te Bandoeng sekarang ITB.

Referensi tertulis juga dijelaskan dalam buku “Biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis oleh Cindy Adams. Bung Karno pada waktu menjumpai seorang petani sedang menggarap tanah yang luasnya tidak cukup untuk makan bersama dengan keluarga.

Dengan penuh rasa kemanusiaan, Bung Karno melakukan wawancara dengan petani tersebut secara mendalam.

Bung Karno dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa petani tersebut telah ditindas oleh sistem yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda waktu itu.

Kenyataannya petani itu menggarap tanah sendiri, memiliki gubuk (tempat tinggal) sendiri, cangkul (alat produksi) sendiri, tetapi hasil yang ia dapatkan tidak cukup untuk makan bersama sanak dan keluargannya.

Sebelum pergi dan meninggalkan lokasi tersebut, dalam perbincangan terakhirnya Bung Karno menyempatkan untuk menanyakan nama si petani.

Nama petani itu adalah Marhaen. Ya, Marhaen adalah rakyat kecil. Marhaen tinggal di bumi ibu pertiwi sendiri, punya modal sendiri, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa karena ada sistem yang menindas yang tidak ada keberpihakan kepada rakyat kecil.

Selanjutnya Bung Karno menjelaskan bahwa Marhaen dapat dijadikan sebagai simbol untuk rakyat kecil yang ditindas oleh sistem. Entah itu petani, pedagang, tukang becak, dan kaum buruh. Mereka semuanya adalah kaum Marhaen. Mereka semua telah ditindas oleh sistem penindasan dan mereka juga memiliki nasib yang sama.

Kemanakah Marhaenis,,,????

Semua manusia yang mempelajari Marhaenisme baik dari kalangan pemuda, politisi dan pejajar atau mahasiswa mendapat predikat Marhaenis.

Marhaenis menjadi harapan besar Bung Karno untuk melestarikan ajaran Marhaenisme demi terciptanya tatanan masyarakat yang sejahtera, Adil dan makmur.

Akankah para Marhaenis mampu berkiprah dan memberikan kontribusi positif terhadap perbaikan peradaban manusia Indonesia selanjutnya, atau malah menjadi sebuah pengganjal dari kemajuan Bangsa dan Negara,,???

Tentunya ini menjadi sebuah otokritik sosial yang tujuannya memberikan penyadaran agar Marhaenis mampu berdikari dalam bidang ekonomi, berdaulan dalam bidang politik dan berkepribadian dalam budaya.

Marhaenis seharusnya mendikan momentum Ramadhan 2025 ini sebagai kekuatan untuk menciptakan ruang bergerak yang luas sehingga mampu bangkit dari tidur panjang dan menjadi pelopor kemajuan peradaban agar Indonesia memiliki generasi yang siap dan kokoh dalam menghadapi kemajuan zaman.

Marhaenis harus bersatu, Marhaenis harus memiliki keunggulan, Marhaenis harus menjadi pelita agar mampu membawa Indonesia terbebas dari kemiskinan .

Penulis
Wahyu Prasetya
Departemen Publikasi dan Propaganda

Gerakan Pemuda Nasionalis Marhaenis ( NASMAR )

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LAINNYA